“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”
Kata-kata Sukarno itu tentu tak asing di telinga Prabowo Subianto. Boleh jadi, saat menyampaikan pidato bombastis dalam acara Kongres VI Partai Demokrat di Ritz Carlton, Jakarta Selatan, 25 Februari lalu, ia terinspirasi oleh kata-kata itu.
“Saudara-saudara yang muda-muda, yang melihat Indonesia gelap itu siapa? 25 tahun akan datang ya? Insya Allah saya umurnya 98. (Kita) di atas Jepang, di atas Inggris, di atas Prancis, kok Indonesia gelap,” kata Prabowo, seperti dikutip Kompas.com, 25 Februari 2025.
Dari sisi mana Indonesia akan mengungguli Inggris dan Jepang?
Presiden Prabowo mengutip laporan Goldman Sachs, salah satu bank investasi dan perusahaan jasa keuangan terbesar di dunia, yang memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara dengan tingkat ekonomi keempat terbesar di dunia pada tahun 2050.
Proyeksi Goldman Sachs menggunakan ukuran PDB. Dalam perspektif itu, pada 2020, PDB Indonesia sudah terbesar keempat dunia. Namun, lonjakan PDB berkorelasi dengan jumlah populasi. Dengan jumlah populasi yang besar, terbesar keempat di dunia, Indonesia punya kapasitas tenaga kerja, konsumsi, dan pasar yang lebih besar juga. Tidak heran, empat negara dengan PDB terbesar pada 2050 versi Goldman Sachs adalah negara dengan populasi terbesar di dunia: Tiongkok, AS, India, dan Indonesia.

Di sinilah masalahnya, ukuran PDB yang besar tak mencerminkan kesejahteraan. Kalau PDB yang besar itu dibagikan dengan total populasi, yang sering disebut PDB per kapita, maka potongan kue PDB yang diterima tiap kepala orang Indonesia masih terbilang kecil.
Saat ini, PDB per kapita Indonesia baru USD 4.876, yang menempatkan Indonesia dalam kategori “negara berpendapatan menengah atas”. Sementara PDB per kapita Jepang sebesar USD 33.766 dan Inggris sebesar USD 49.463, keduanya masuk kategori “negara berpendapatan tinggi”. Bahkan PDB per kapita Indonesia masih tertinggal sangat jauh dari negara tetangganya, Malaysia. Saat ini, PDB per kapita negeri serumpun itu sudah USD 11.379 atau lebih dari dua kali lipat dari PDB per kapita Indonesia.
Untuk masuk kategori “negara berpendapatan tinggi”, Indonesia harus punya PDB per kapita minimal USD 13.845 atau hampir tiga kali lipat dari nilai PDB per kapita sekarang. Jadi, tantangan yang dihadapi Indonesia sekarang ini masih berupaya keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Namun, PDB bukan ukuran kesejahteraan, kata ekonom peraih Nobel Ekonomi, Joseph Stiglitz. Apalagi jika pertumbuhan PDB ditopang oleh ekspor yang berbasis ekstraksi SDA, konsumsi yang dibiayai utang/kredit, dan investasi asing. Selain itu, PDB tidak bisa menangkap realitas ketimpangan ekonomi. Jadi, mari tinggalkan ukuran PDB ini.
Sekarang, mari bicara soal pajak. Negara maju punya rasio pajak tinggi, yang menunjukkan pemerintah bisa mengumpulkan cukup dana untuk membangun infrastruktur, pendidikan, dan layanan publik lainnya. Tax ratio Indonesia? Cuma 10,4 persen dari PDB pada 2024. Bandingkan dengan Inggris yang mencapai 27,3 persen dan Jepang 13,2 persen. Dengan tax ratio segini, bagaimana Indonesia mau membangun layanan publik yang setara dengan Jepang dan Inggris?

Lalu, bagaimana dengan industri? Sayangnya, Indonesia sedang tertatih-tatih karena deindustrialisasi. Padahal, industrialisasi merupakan satu-satunya jalan untuk menjadi negara berpendapatan tinggi. Kontribusi manufaktur terhadap PDB hanya 18,98 persen. Bandingkan dengan Tiongkok dan Inggris yang punya industri manufaktur kuat, hasil produksi yang menjelma menjadi brand-brand ternama di dunia. Sementara Indonesia masih bertungkus lumus dalam jebakan ekonomi ekstraktif.
Soal pendidikan, Indonesia juga tertinggal jauh. Menurut laporan PISA, yang menilai kemampuan siswa dalam membaca, matematika, dan sains, Indonesia selalu berada di papan bawah. Sedangkan Inggris dan Jepang, sudah di level elite dunia. Universitas mereka masuk peringkat global terbaik, sementara Indonesia masih berkutat dengan masalah kurikulum yang sering gonta-ganti dan akses pendidikan yang tidak merata.
Jepang salah satu negara dengan investasi terbesar di bidang riset dan teknologi. Inggris punya universitas top dunia yang melahirkan banyak ilmuwan dan teknologi mutakhir. Indonesia? Anggaran risetnya kecil, dan sekarang malah dipangkas. Sains kurang didukung. Produk teknologi kebanyakan impor ketimbang buatan sendiri.
Di sektor kesehatan? Jepang punya angka harapan hidup tertinggi di dunia, sekitar 84 tahun. Inggris punya National Health Service (NHS) yang memberi akses layanan kesehatan murah dan berkualitas. Sementara di Indonesia, BPJS masih sering terkendala defisit, fasilitas kesehatan di daerah masih minim, dan dokter spesialis lebih banyak terkonsentrasi di kota-kota besar. Belum lagi kasus penolakan dan perlakuan diskriminatif terhadap pasien dari keluarga miskin (BPJS-PBI).
Tata kelola negara? Jepang dan Inggris punya sistem administrasi yang efisien dan birokrasi yang relatif bersih. Birokrasi di Indonesia masih sangat korup, tidak efisien, dan sarat kepentingan politik. Indeks Persepsi Korupsi Jepang skornya 71 dan menempati peringkat ke-20 terbersih dari korupsi di dunia. Bandingkan dengan Indonesia yang skornya cuma 37 dan peringkat ke-99 di dunia.
Jepang punya budaya malu yang kuat. Pejabat yang ketahuan korupsi akan mundur sendiri dari jabatan atau bunuh diri. Inggris punya sistem hukum yang lebih independen. Pengelolaan anggaran lebih transparan, sehingga sulit bagi pejabat untuk menyalahgunakan kekuasaan. Tentu ada saja kasus korupsi di kedua negara itu, tapi skalanya relatif lebih kecil dibanding Indonesia dan penegakan hukumnya lebih serius.
Di sebelah mana Indonesia akan mengungguli Inggris dan Jepang? Sepak bola? Jelas mustahil. Inggris punya Premier League dan Jepang sudah beberapa kali tampil impresif di Piala Dunia. Sepak bola Indonesia hanya unggul dari mereka dalam memproduksi drama dan korupsi di organisasi induknya.
Mari bandingkan sepak bola Jepang. Tim Negeri Matahari Terbit ini adalah langganan Piala Dunia. Liganya, J-League, salah satu liga terbaik di Asia. Pemain-pemain Jepang banyak merumput di liga-liga terbaik Eropa, seperti Premier League, Bundesliga, Seri-A dan La Liga. Sedangkan Inggris sudah pernah mengangkat trofi Piala Dunia pada 1966 dan dua kali menjadi semifinalis. Kualitas liganya, Premier League, salah satu yang terbaik di dunia. Trus, Indonesia? Tim Nasionalnya saja harus naturalisasi karena gagal membangun tim berbasis liga domestik yang profesional dan kompetitif. Federasi sepak bolanya tidak pernah sehat dari korupsi dan nepotisme.
Sekali lagi, bermimpi itu baik. Optimisme adalah bahan bakar kereta kemajuan. Sebagai pemimpin, Prabowo memang harus menyalakan mimpi dan optimisme. Namun, bermimpi dan optimis saja tak cukup. Optimisme harus dituntun oleh arah dan strategi yang jelas. Dan itu pun harus dibarengi kerja yang tulus dan konkret.
Namun, ketika mimpi menjelma sebagai harapan, ada syarat-syarat untuk mewujudkannya. Bukan sekadar pidato bombastis, tapi kerja nyata. Kalau tidak, Indonesia hanya akan terus jadi juara dunia dalam produksi wacana dan ilusi.










