Jejak Perlawanan Abadi Nawal El Saadawi

Perkenalan saya dengan Nawal El Saadawi terjadi pada pertengahan 1990 lewat buku Perempuan di Titik Nol. Buku cetakan pertama terjemahan bahasa Indonesia ini saya terima sebagai hadiah dari seorang kawan baik.

Saat itu saya belum banyak mengenal wacana feminisme. Tetapi begitu membuka halaman-halamannya, saya tersentak. Kisah Firdaus, perempuan yang ditindas, dieksploitasi, lalu dihukum mati karena membunuh pemerkosanya, seperti menyalakan api kecil di dalam diri saya.

Sejak itu, saya jatuh cinta pada Nawal. Tulisan dan pemikirannya seperti mewakili apa yang saya pikirkan tapi tak pernah berani saya tuliskan. Beberapa bukunya masih berderet rapi di rak buku, termasuk edisi terjemahan cetakan pertama tahun 1989, yang saya simpan hingga hari ini.

Saya membayangkan Nawal duduk dengan pensil alis pendek di tangannya, di sebuah sel penjara di Kairo, tahun 1980-an. Tidak ada buku, tidak ada mesin ketik, hanya gulungan kertas toilet untuk menulis. Nawal El Saadawi. Dokter, penulis, feminis, aktivis, dan di mata rezim Mesir saat itu, dianggap musuh berbahaya.

Ia ditahan bukan karena membawa senjata. Ia tidak pernah memimpin pemberontakan bersenjata. Nawal dianggap berbahaya karena pemikiran dan tulisannya yang terang-terangan menentang norma sosial dan patriarki di Mesir. Ia berani bicara terbuka tentang hak-hak seksual perempuan, kekerasan gender, dan ketidakadilan dalam institusi pernikahan. Dedikasinya dalam memperjuangkan keadilan dan kebebasan politik bagi perempuan membuatnya menjadi ancaman bagi pemerintah.

Begitu berbahayanya Nawal bagi rezim, sehingga dalam wawancara dengan Reuters pada 2018, ia bercerita tentang sipir penjara yang mengatakan padanya bahwa menemukan kertas dan pena di sel tempat dirinya dikurung lebih berbahaya daripada menemukan senjata.

Perempuan yang juga feminis Mesir, Nawal el-Saadawi (kanan), menerima gelar dokter kehormatan (doctor honoris causa) dari National Autonomus University di Palacio de Mineria, Mexico City, Meksiko, 23 September 2010. Kredit: AFP/ALFREDO ESTRELLA

Bukan sekadar menulis

Sejak muda, Nawal percaya bahwa menulis bukan aktivitas privat. Ia tidak sekadar menulis curahan hati di kertas kosong. Setiap kalimat adalah batu yang dilemparkan ke tembok kekuasaan.

Dalam The Hidden Face of Eve (1977), ia membongkar luka perempuan Arab: mutilasi genital, pernikahan paksa, serta kekerasan domestik. Sedangkan dalam Woman at Point Zero (1975), ia memberi suara pada narapidana perempuan yang dihukum mati karena membunuh lelaki yang telah memperkosanya. Melalui Firdaus, tokoh utama dalam novel ini, Nawal menyebutkan, “Mereka berkata, ‘Kau perempuan buas dan berbahaya.’ Aku hanya mengatakan kebenaran. Dan, kebenaran memang buas dan berbahaya.”

Bagi Nawal, fiksi bukan hiburan. Ia adalah refleksi kenyataan yang dibungkam oleh penguasa tirani.

Risiko yang selalu menghantui

Ada harga yang harus dibayar untuk jejak keberaniannya yang hingga kini terasa abadi. Karena tulisan-tulisannya, Nawal dipecat dari Kementerian Kesehatan Mesir, diasingkan, bahkan dipenjara. Bukunya dilarang beredar. Namun penjara tidak menghentikannya. Ia terus menulis di balik jeruji, dengan alat seadanya.

Dalam Memoirs from the Women’s Prison (1984), ia menuliskan pandangannya tentang demokrasi. “Demokrasi bukan hanya kebebasan untuk mengkritik pemerintah atau kepala negara, atau untuk menyelenggarakan pemilihan parlemen. Demokrasi sejati hanya ada ketika rakyat—perempuan, laki-laki, anak muda, anak-anak —memiliki kemampuan untuk mengubah sistem kapitalisme industri yang telah menindas mereka sejak masa awal perbudakan: sebuah sistem yang berdiri di atas pembagian kelas, patriarki, dan kekuatan militer, sebuah sistem hierarkis yang menundukkan manusia hanya karena mereka lahir miskin, atau perempuan, atau berkulit gelap.”

Ia sadar betul bahwa kalimat seperti itu membuat banyak pihak gelisah. Tapi ia tidak pernah mundur. “Bahaya telah menjadi bagian dari hidupku sejak pertama kali aku mengangkat pena dan menulis. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada kebenaran di dalam dunia yang penuh kebohongan,” ungkapnya.

Nawal el-Saadawi, yang saat itu berusia 80 tahun, bergabung dalam aksi “Occupy” di London, 2011, untuk mengutuk keserakahan kapitalisme. Kredit: Getty Images

Lebih bebas daripada Simone de Beauvoir

Di sepanjang hidupnya, Nawal kerap dibandingkan dengan Simone de Beauvoir, seorang tokoh feminis dan filsuf Prancis. Perbandingan itu sering dimaksudkan sebagai penghormatan, tetapi Nawal menolaknya. Dalam wawancara, ia menegaskan: “Tidak, saya tidak ingin disamakan dengan de Beauvoir!”

Ia kemudian menambahkan bahwa, “Simone de Beauvoir cemburu dan terobsesi pada Sartre. Saya jauh lebih bebas.” Ucapan itu menggambarkan betapa Nawal ingin dilihat sebagai dirinya sendiri, bukan bayang-bayang feminis Barat. Feminismenya lahir dari tanah Mesir, dari luka dan pengalaman perempuan Arab, dari struktur patriarki yang sangat berbeda dengan Eropa.

Cermin untuk Indonesia

Kisah Nawal terasa akrab bila kita melihat ke Indonesia hari ini. Buku masih bisa disita. Penulis dan aktivis dijerat hukum karena opininya, jurnalis diintimidasi karena liputannya, undang-undang bisa dipakai untuk membungkam suara kritis.

Bagi perempuan, situasinya bahkan lebih berat. Masih ada perkawinan anak, pelecehan seksual, serta kekerasan yang dibiarkan tanpa keadilan. Ketika ada perempuan bersuara lantang menuntut keadilan, ia sering dicap melawan norma, melanggar hukum, merusak budaya, bahkan dicap gila.

Kebenaran sering dianggap berbahaya karena ia membuka luka yang ingin disembunyikan.

Nawal el-Saadawi bergabung dengan gerakan rakyat di Lapangan Tahrir, Mesir, 2011, untuk menggulingkan rezim diktator Hosni Mubarak. Kredit:  Amel Pain/EPA-EFE

Mengapa Nawal penting bagi kita

Nawal El Saadawi menunjukkan tiga hal penting untuk kita ingat. Pertama, kata-kata bisa membuka jalan yang ditutup rapat oleh kekuasaan. Kedua, keberanian selalu berharga mahal, tetapi tanpa keberanian tidak ada perubahan. Ketiga, suara perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan melawan tirani.

Dalam suatu wawancara dengan Joseph Mayton untuk Progressive Magazine tahun 2011, Nawal mengatakan, “Perempuan adalah setengah dari masyarakat. Anda tidak bisa melakukan revolusi tanpa perempuan. Anda tidak bisa punya demokrasi tanpa perempuan. Anda tidak bisa punya kesetaraan tanpa perempuan. Anda tidak bisa punya apa pun tanpa perempuan.”

Warisan yang tak pernah padam

Nawal El Saadawi wafat pada 21 Maret 2021. Namun kata-katanya tetap hidup, melintasi batas geografi dan bahasa. Ia mengajarkan bahwa pena bisa lebih tajam daripada pedang, dan tulisan bisa lebih abadi daripada ancaman.

Kisahnya adalah cermin bagi kita semua bahwa di negeri mana pun, kata-kata bisa dianggap berbahaya. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Menulis adalah perlawanan. Dan, selama masih ada orang yang berani menulis, selalu ada harapan untuk kebebasan. Selama kita masih menulis, perlawanan tidak pernah mati.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Discord, Suara Digital Politik Gen Z Nepal
Next
Pseudo-Listening dalam Politik: Janji, Simbol, dan 17+8 Tuntutan Rakyat

Pseudo-Listening dalam Politik: Janji, Simbol, dan 17+8 Tuntutan Rakyat

Apakah pemerintah kita benar-benar mendengarkan suara rakyat, atau sekadar

You May Also Like
Total
0
Share