Jalan Perdamaian Kardinal Orlando Beltran

Di Mindanao, Filipina, perdamaian tidak datang dengan mudah. Puluhan tahun konflik telah meninggalkan luka, kecurigaan, dan sekat di antara komunitas agama serta masyarakat adat. Di tengah ketegangan itulah, Kardinal Orlando Beltran Quevedo memilih menempuh jalan membangun dialog, merawat kepercayaan, dan menghadirkan harapan melalui perjumpaan antarsesama.

Selama lebih dari lima dekade, Uskup Agung Emeritus Cotabato itu menjadikan dialog sebagai bagian dari panggilan hidupnya. Baginya, perdamaian tidak hanya lahir dari kesepakatan politik atau perundingan di ruang-ruang resmi, tetapi juga dari keberanian orang-orang biasa untuk saling mendengar, menghormati, dan hidup berdampingan dalam keseharian.

Jejak panjang itulah yang mengantarkan Kardinal Orlando Beltran menerima Harmony in Diversity Award 2026 dalam seremoni yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (15/7). Penghargaan yang diinisiasi Temasek Foundation bersama 5P Global Movement itu diberikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi panjangnya dalam membangun rekonsiliasi, dialog antaragama, dan perdamaian yang inklusif di Asia Tenggara.

“Saya menganggap gerakan saya untuk menjaga harmoni dan diversitas sebagai misi berkelanjutan dari Tuhan,” ujar Kardinal Orlando usai menerima penghargaan.

Kardinal Orlando merupakan tokoh penting Gereja Katolik Filipina, sekaligus kardinal pertama yang berasal dari Pulau Mindanao. Di wilayah yang lama dilanda konflik bersenjata itu, ia dikenal sebagai tokoh perdamaian yang konsisten menjembatani komunikasi lintas agama dan lintas komunitas.

Prinsip yang selalu ia pegang adalah dialog kehidupan (dialogue of life), yakni membangun hubungan melalui interaksi sehari-hari antarsesama. Menurutnya, toleransi tidak cukup berhenti pada sikap saling menghormati, tetapi harus diwujudkan dalam kerja sama, kepercayaan, dan kepedulian yang terus dipelihara.

Komitmen tersebut diwujudkan dalam berbagai langkah nyata. Pada 1996, Kardinal Orlando turut mendirikan Bishops-Ulama Conference, forum yang mempertemukan para uskup Katolik, pemimpin gereja Protestan, dan ulama Islam dalam satu wadah dialog yang berkelanjutan. Forum ini menjadi salah satu simbol penting kerja sama lintas agama di Filipina dan membuka ruang komunikasi di tengah konflik yang berkepanjangan.

Tak berhenti di sana, ia juga aktif mendorong berbagai kebijakan yang memperkuat proses perdamaian. Termasuk mendukung Bangsamoro Basic Law sebagai bagian dari upaya menjamin pengakuan hak-hak masyarakat serta kebebasan beragama bagi seluruh kelompok di Mindanao.

Patron Harmony in Diversity Award, sekaligus mantan Presiden Singapura, Halimah Yacob, menilai perjalanan Kardinal Orlando menunjukkan bahwa perdamaian sejati dibangun dari relasi antarmanusia, bukan sekadar melalui kesepakatan formal.

“Selama bertahun-tahun, ia bekerja di Mindanao, di mana komunitas Kristen dan Muslim mengalami masa-masa ketidakpercayaan. Keyakinannya membawanya untuk membantu mendirikan Konferensi Ulama, sebuah platform unik yang menyatukan perwakilan Katolik, Muslim, dan masyarakat adat,” ujar Halimah.

Menurut Halimah, ketika prasangka dan konflik mudah memecah belah masyarakat, Kardinal Orlando justru memilih jalan yang berbeda.

“Keyakinannya adalah harmoni dibangun melalui interaksi sehari-hari, orang-orang yang memilih untuk hidup berdampingan dengan rasa hormat dan saling pengertian,” ujarnya.

Harmony in Diversity Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada individu-individu yang menunjukkan komitmen luar biasa dalam memperkuat kohesi sosial dan harmoni di Asia Tenggara. Program yang diluncurkan pada 1 Agustus 2025 oleh Temasek Foundation dan 5P Global Movement itu menjadikan Kardinal Orlando Beltran sebagai penerima penghargaan perdana setelah melalui proses seleksi yang melibatkan lebih dari 70 nominasi.

Dewan juri penghargaan terdiri atas sejumlah tokoh kawasan, yakni mantan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, Tunku Aminah Maimunah Iskandariah, Wali Kota Quezon Joy Belmonte, Group CEO Frasers Property Limited Panote Sirivadhanabhakdi, serta Executive Director dan CEO Temasek Foundation Ng Boon Heong. Halimah Yacob bertindak sebagai patron.

Pendiri 5P Global Movement, Arsjad Rasjid, mengatakan penghargaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada seorang tokoh, tetapi juga menjadi penghormatan bagi jutaan orang yang setiap hari merawat harmoni melalui tindakan-tindakan sederhana.

“Penghargaan ini lebih dari sekadar piala. Ini adalah katalis agar kisah-kisah seperti ini menginspirasi lahirnya lebih banyak inisiatif di seluruh Asia Tenggara. Di kawasan yang sering diuji oleh pergeseran geopolitik dan keretakan sosial, keberagaman bukanlah kerentanan, melainkan kekuatan terbesar kita,” kata Arsjad.

Di Indonesia sendiri, 5P Global Movement gencar mempromosikan upaya membangun kepercayaan, mencegah konflik, dan memperkuat kohesi sosial. Bersama Bonum Commune Forum dan Keuskupan Agung Jakarta, gerakan ini rutin mengundang para pemimpin komunitas, organisasi keagamaan, tokoh lintas iman, pegiat masyarakat sipil, hingga kaum muda untuk memperkuat gerakan akar rumput di Indonesia.

“Melalui ikhtiar ini diharapkan komunitas bisa menjadi ruang hidup untuk mewujudkan perdamaian, merawat kepercayaan, merespons ketegangan sosial, hingga membangun gerakan yang inklusif di tengah keberagaman,” terang Direktur Eksekutif 5P Global Movement Indonesia, Antonius Riva Setiawan.

Riva menyebutkan, upaya untuk mewujudkan harmoni dan perdamaian merupakan perjalanan panjang. Tak bisa tercipta dalam waktu sekejap, melainkan hasil dari kesabaran, dialog, serta keberanian untuk terus mempercayai sesama, bahkan di tengah perbedaan, konflik dan polarisasi.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Kisah Orang Rantai, Pemberontakan PKI, dan Pertambangan Batubara Sawahlunto

Kisah Orang Rantai, Pemberontakan PKI, dan Pertambangan Batubara Sawahlunto

Kota tua yang dibangun Belanda sejak 1888 ini menjadi saksi sejarah

Next
Membaca Ambisi Besar Vietnam

Membaca Ambisi Besar Vietnam

Pada 2045 itu, negeri tersebut akan genap berusia satu abad sejak Ho Chi Minh

You May Also Like
Total
0
Share