Wakil Presiden Gibran Rakabuming melontarkan ide brilian: hilirisasi kemenyan. Banyak yang mencemooh ide itu sebagai wacana lucu yang cukup menghibur di tengah riuh panggung politik yang miskin gagasan dan terobosan.
Namun, ide itu memang menarik. Jika hilirisasi berjalan, kemenyan bisa menjadi tumpuan untuk industri farfum, farmasi, hingga komestik dan perawatan kulit. Benar, kata Gibran, ada banyak brand parfum mewah, seperti Gucci dan Louis Vuitton, yang harga per botolnya melampaui rata-rata UMP pekerja se-Indonesia, dibuat dari bahan baku kemenyan (incense atau olibanum).
Sayang sekali, ide besar itu seperti tak memijak bumi. Ide hilirisasi kemenyan seperti menabrak kenyataan pahit: nasib petani yang terabaikan dan ancaman deforestasi.
Ketersediaan hutan alami
Kemenyan dibuat dari getah pohon Styrax, terutama jenis Styrax benzoin dan Styrax sumatrana yang tumbuh di daerah pegunungan seperti Sumatra Utara dan Aceh.
Kemenyan tumbuh secara alami di hutan-hutan alam di ketinggian 1.000 meter-1.400 meter di atas permukaan laut. Kemenyan hanya bisa tumbuh di hutan alam yang masih bagus di antara tanaman-tanaman hutan lain. Pohon Styrax, yang menghasilkan kemenyan, hanya menghasilkan getah berkualitas jika tumbuh di antara pepohonan alam lain. Kemenyan tidak bisa tumbuh tanpa vegetasi peneduh.

Dalam sejarah, kemenyan mulai dikenal sejak abad ke-5 Masehi, terutama di wilayah Barus, Sumatera Utara, yang dikenal sebagai pusat produksi dan ekspor kemenyan paling awal di Nusantara. Versi lain menyebut peradaban kemenyan sudah berlangsung 1.000 tahun di Nusantra.
Di Sumatera Utara, daerah penghasil 80 persen kemenyan Indonesia, komoditas ini menjadi tumpuan kehidupan masyarakat adat, terutama di Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Dairi, dan Pakpak Bharat.
Di daerah-daerah tersebut, masyarakat adat mengembangkan ekonomi kemenyan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Tanaman kemenyan mulai menghasilkan resin (getah) saat berusia 7-10 tahun.
Ancaman deforestasi
Meski ekonomi kemenyan punya potensi besar, termasuk hilirisasi, tetapi masa depannya terancam oleh laju deforestasi. Akibat ekspansi ekonomi ekstraktif yang nyaris tanpa kendali, laju deforestasi di Indonesia termasuk yang tercepat di dunia.
Laporan terbaru dari Forest Declaration Assessment menempatkan laju defortasi Indonesia di peringkat kedua setelah Brasil, dengan luas deforestasi mencapai 1,18 juta hektare pada 2023.
Di Sumatera utara, daerah utama penghasil kemenyan, kawasan hutan penghasil kemenyan tergusur oleh ekspansi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan proyek eucalyptus oleh perusahaan seperti PT Toba Pulp Lestari.

Di Kabupaten Humbang Hasundutan, jantung utama penghasil kemenyan di Sumatera Utara, seperti dilaporkan Mongabay pada 23 Januari 2025, ekonomi kemenyan yang digerakkan oleh masyarakat adat sedang terancam oleh pembukaan hutan untuk kebun kayu eucalyptus milik PT Toba Pulp Lestari (PT TPL). Tombak haminjon, istilah masyarakat Sumutara Utara untuk hutan kemenyan, semakin menyempit dan menipis.
Tanpa menghentikan laju deforestasi, terutama mengendalikan ekspansi ekonomi ekstraktif, ide hilirisasi kemenyan hanyalah igauan seorang pejabat yang belum terbangun dari tidur panjangnya dan belum sempat menengok realitas.
Jadi, sebelum bicara hilirisasi kemenyan, sebaiknya pak Wapres Gibran Rakabuming bisa memerintahkan iparnya yang menjadi Gubernur di Sumatera Utara, Bobby Nasution, untuk menghentikan laju deforestasi hutan penghasil kemenyan.
Peninjauan ulang izin-izin industri ekstraktif yang merusak, penguatan regulasi perlindungan hutan, dan pemberdayaan petani kemenyan melalui akses pasar yang adil, pelatihan, dan pengakuan hak atas hutan adat menjadi langkah-langkah mendesak yang harus diambil. Hilirisasi yang sejati adalah transformasi nilai secara holistik, bukan sekadar peningkatan harga di hilir tanpa memperhatikan keberlanjutan di hulu.










