Kampanye menghormati bumi, bergaya hidup ramah lingkungan memang terlihat keren. Mudah diucapkan, tapi sangat susah dilakukan. Namun, bagaimana pun kampanye ini tetap harus digaungkan untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga, merawat, juga mengurangi dampak negatif atas perilaku kita terhadap bumi.
Ada banyak contoh bagaimana kelompok masyarakat menerapkan pola hidup ramah lingkungan merawat alam. Tapi dalam tulisan ini saya hanya mengambil contoh cara kaum hippie di Amerika Serikat dan Eropa, serta masyarakat Baduy di Lebak, Banten dalam menjaga bumi. Bukan untuk membandingkan, namun mengambil hal baik dari apa yang telah mereka lakukan.
Slow fashion gaya hippie
Sejarah slow fashion berawal dari gerakan kaum hippie di tahun 1960-an. Mereka menyampaikan pesan perdamaian, cinta, dan kebebasan melalui gaya berpakaian ikonik dan memberi pengaruh. Mereka menentang produksi massal dan mempromosikan material alami dalam berpakaian, bersepatu, aksesori, termasuk gaya rambut.
Dalam berpakaian, kaum hippie pun memilih menggunakan bahan alami seperti katun, hemp, dan linen.
Istilah slow fashion sendiri diciptakan seorang desainer bernama Kate Fletcher, pada tahun 2007, yang kemudian dikenal sebagai mode berkelanjutan (sustainable fashion).
Gaya ini berfokus pada kualitas, keberlanjutan, apresiasi terhadap proses produksi dan ramah lingkungan—bukan pada tren cepat dan barang sekali pakai.

Busana alami masyarakat Baduy
Sedangkan masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten punya aturan ketat dalam menjaga harmoni dengan alam. Mereka melarang mengeksploitasi alam. Hanya mengambil, menggunakan secukupnya, sesuai kebutuhan, dan tidak berlebihan.
Dalam hal berpakaian, perempuan adat Baduy menenun sendiri, mulai dari menanam biji kapas, memanen, memintal, menenun, sampai mencelup sesuai motif khasnya. Hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual, tetapi dipakai sendiri.
Baju adat masyarakat Baduy terbuat dengan bahan yang didapat dari alam sekitar, sederhana dan sarat nilai luhur.
Dari hippie dan Baduy kita bisa mengambil nilai baik. Di tengah perilaku konsumtif, fast fashion, membeli karena ingin, bukan karena butuh, pada akhirnya hanya akan menumpuk banyak barang, menghasilkan sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan.
Mari kita mulai dari hal-hal kecil, seperti setiap akan membuat event, tidak perlu lagi memesan lusinan kaus untuk tim panitia. Kita bisa menggantinya dengan sablon, tidak perlu beli tapi masing-masing kita membawa kaus polos dari rumah, lalu disablon manual sesuai tema acara.
Dikutip dari artikel Laku Menghormati Bumi Ala Yuanita Maya, yang diterbitkan suluhperempuan.org, hal sederhana lain yang bisa kita lakukan untuk andil menjaga bumi adalah dengan mengurangi pemakaian plastik/diet plastik, mencabut charger saat tidak digunakan, serta membeli produk dengan label bio grade (aman dan layak digunakan).
Semoga aksi-aksi kecil kita berkontribusi dan berdampak dalam menjaga bumi. Langkah ini harus segera dimulai guna memperpanjang usia bumi yang sudah rusak parah ini.
Maka jika nanti ketemu dan melihat saya memakai baju yang itu-itu saja, mohon jangan heran dan kasihan. Sejatinya saya sedang menjalani laku hidup slow fashion, yang kalau dilihat memang beda-beda tipis dengan kere he-he-he. (*)










