Selamat Jalan, Intelektual Anti-Imperialis

Pada 17 Januari 2026, dunia kehilangan salah satu pemikir kiri paling gigih: James Petras, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-89, di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Kematiannya dikonfirmasi oleh keluarga dan situs web LaHaine.org, yang menyatakan ia pergi dengan damai dikelilingi orang terkasih.

Namun, kepergiannya seperti bisikan di tengah hiruk-pikuk dunia yang sedang dilanda ketidakpastian ekonomi, pasang fasisme, dan ancaman konflik di berbagai sudut dunia. Padahal, kontribusi Petras luar biasa. Sebagai sosiolog, ia menulis 64 buku dalam 29 bahasa dan lebih dari 560 artikel di jurnal bergengsi seperti American Sociological Review dan Journal of Peasant Studies. Fokusnya pada Amerika Latin, Timur Tengah, imperialisme, dan globalisasi membentuk pemahaman tentang ketidakadilan global. Ia menerima penghargaan seperti Life Time Career Award dari American Sociological Association’s Marxist Section dan Robert Kenny Award 2002.

Jejak aktivisme

James Petras lahir pada 17 Januari 1937 di Lynn, Massachusetts, dari keluarga imigran Yunani kelas pekerja. Latar belakang ini membentuk sensitivitasnya terhadap perjuangan buruh dan ketidakadilan sosial. Ia meraih BA dari Boston University dan PhD dari University of California, Berkeley. Pada 1972, ia bergabung dengan Binghamton University sebagai profesor sosiologi, menjadi Bartle Professor Emeritus, dan adjunct di Saint Mary’s University, Kanada.

Aktivisme Petras dimulai sejak 1960-an. Ia terlibat dalam Bertrand Russell Tribunal on Repression in Latin America (1973-1976), menyelidiki pelanggaran hak asasi di bawah kediktatoran militer. Ia bekerja dengan Gerakan Petani Tak Bertanah (MST) di Brasil selama 11 tahun, yang memperjuangkan reforma agraria.

James Petras. Kredit: PaginaI12

Petras menulis kolom bulanan untuk La Jornada (Meksiko) dan El Mundo (Spanyol), serta berkontribusi di situs seperti Global Research dan CounterPunch. Ia mendukung gerakan kiri di Amerika Latin, seperti revolusi Kuba dan Venezuela di bawah Chavez, serta mengkritik intervensi AS di berbagai negara.

Hidupnya adalah perpaduan antara akademik dan aktivisme: mengajar, menulis, dan terlibat langsung dengan gerakan sosial. Ia menikah dengan Elizabeth Petras, dan memiliki anak-anak yang melanjutkan semangatnya. Jejak ini membuatnya menjadi “intelektual organik” ala Gramsci, yang tak hanya menganalisis tapi juga berpartisipasi dalam perubahan sosial.

Intelektual pembela kaum tertindas

Pemikiran Petras berpusat pada anti-imperialisme, melihat imperialisme bukan sebagai abstraksi tapi adaptasi politik-ekonomi yang mempertahankan dominasi kelas penguasa.

Dalam “Imperialism and Capitalism in the Twenty-First Century” (bersama Henry Veltmeyer), ia mengurai hubungan intim antara kapitalisme dan imperialisme, di mana negara imperial seperti AS menggunakan kekuatan militer dan ekonomi untuk mengeksploitasi negara Selatan. Ia menekankan perlunya kombinasi perjuangan kelas dan anti-imperialisme.

Ketika banyak kiri di Amerika Latin mengambil strategi defensif, misalnya yang diadopsi Jorge Castenada dengan pendekatan kiri-tengahnya maupun Marta Harnecneker yang memfokuskan pada perjuangan anti-neoliberalisme, Petras justru menekankan strategi onpensif: aliansi kelas tertindas di bawah panji-panji anti-imperialisme dan anti-kapitalisme. Ia tak percaya kelompok menengah maupun sektor pengusaha nasional punya kapasitas untuk melawan kepentingan kapitalisme global atau imperialisme.

Yang menarik, ia melihat Non-Government Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai alat imperialisme, yang didanai Barat untuk meredam perlawanan sosial dengan proyek “dari bawah” yang anti-terhadap elite, sehingga melemahkan gerakan radikal. Dalam “NGOs: In the Service of Imperialism,” ia berargumen bahwa NGO bersaing dengan gerakan sosial untuk memikat pemimpin lokal, menciptakan “bantal sosial” bagi neoliberalisme.

Wawancara dengan James Petras. Kredit: The Wire

Pemikiran Petras dalam aktivisme di Indonesia

James Petras adalah satu intelektual kiri yang karya-karyanya cukup banyak beredar di Indonesia. Beberapa karyanya bersama Henry Veltmeyer diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, seperti Buku Di Ambang Revolusi (2003), Menelanjangi Globalisasi; Sepak Terjang Imperialisme Di Abad 21 (2014), Power of Israel in USA: Zionis Mencengkeram Amerika dan Dunia (2008), Imperialisme abad 21 (2001), dan Zionisme dan Keruntuhan Amerika (2009).

Pemikiran James Petras banyak membantu intelektual maupun generasi aktivis di Indonesia dalam memahami globalisasi, imperialisme, peran NGO, hingga isu agraria. Generasi aktivis pasca reformasi banyak terpapar pemikiran Petras yang cocok mengisi otak yang sedang gelisah dan baru saja menikmati kebebasan politik.

Warisan abadi

Warisan Petras adalah suara kelas melawan imperium. Ia mendokumentasikan gerakan sosial di Amerika Latin, mengungkap kekerasan kekuasaan dan ketidakadilan kapitalisme global. Ia memberi perspektif lebih radikal kepada intelektual maupun aktivis gerakan sosial dalam melihat kelindan kapitalisme dan globalisasi.

Di era ketidakadilan global, visinya tentang perlawanan anti-imperialis tetap relevan. Petras membuktikan bahwa intelektual bisa melampaui aktivitas akademik untuk mendukung perjuangan nyata. Selamat jalan, James Petras, semoga pemikiranmu terus menyala di hati para pejuang.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Indonesia, Raksasa Kopi yang Tertidur

Indonesia, Raksasa Kopi yang Tertidur

Indonesia adalah raksasa kopi yang tertidur

Next
Kopi dalam Sejarah Pergolakan Revolusi

Kopi dalam Sejarah Pergolakan Revolusi

Kopi, minuman hitam pekat yang sering kita nikmati di pagi hari, ternyata

You May Also Like
Total
0
Share