Rock Progresif: Bukan Genre Pengemis Validasi (2)

Di tengah dunia yang semakin absurd, genre progresif rock masih terus bertahan di bawah gempuran TikTok dengan lagu-lagu viralnya yang berdurasi 15 detik.

Bayangkan, Anda duduk di kamar, mendengarkan sebuah lagu berdurasi 22 menit, terdiri dari tujuh bagian, tiga perubahan tempo, dan satu monolog internal tentang kehampaan eksistensial. Lalu, kemudian saat membuka TikTok menemukan lagu viral pendek berjudul Aku Kucing Lucu, Meow Meow Kacau.

Di kala para musisi progresif masih menuliskan lagu tentang perang, kapitalisme, dan berbagai pertanyaan spiritual rumit, dunia bergerak dengan cepat.

Hari ini musik memang kerap didesain untuk sekadar scrolling. Tak perlu berpikir, hanya butuh gerak dan menari. Lirik bukan lagi pesan, tapi caption. Bandingkan dengan Rush dalam lagu Subdivisions:

“Subdivisions/In the high school halls/In the shopping malls/Conform or be cast out.”

Cobalah taruh lirik ini di TikTok. Pasti gen Z akan tercengang, karena tidak ada dance challenge yang cocok.

Begitulah. Di kala mayoritas industri musik sibuk dengan auto-tune, looped beats, dan lirik tak bermakna dalam, para musisi progresif tetap mengomposisi simfoni dalam 13/8, sambil bertanya: apakah ini realitas nyata, atau kita semua bagian dari ilusi kapitalistik?

Jika musik pop hari ini boleh disamakan dengan mi instan (murah, cepat, dan mungkin bisa merusak hati dan ginjal), maka progresif rock adalah rendang: rumit, lambat, dan butuh ketekunan. Band seperti Pink Floyd, misalnya, tidak hanya bernyanyi, tapi juga berkhotbah. Coba dengarkan Us and Them:

“With, without/And who’ll deny it’s what the fighting’s all about?”

Ada kritik perang, kemunafikan politik, dan dualitas moral, semua disisipkan dalam suara saksofon sendu dan chord minor hingga membuat Anda ingin membaca Chomsky sambil menangis.

Sementara itu, TikTok trending dengan lagu berlirik: “Gas, gas, gas/Aku mau cepat-cepat.”

Apakah ini sebuah karya agung tentang konsumsi BBM, sekaligus alienasi dalam sistem transportasi neoliberal? Tidak, ini lagu tentang balapan mobil.

Konsep album vs konsep FYP

Di zaman ketika satu single harus bisa viral sebelum refrein pertama, para prog-head justru menyusun album konsep tentang distopia pascakeruntuhan etika global. King Crimson, dalam Epitaph, menyanyikan:

“Confusion will be my epitaph/As I crawl a cracked and broken path…”

Lalu mereka menyusun seluruh album seperti novel Dostoyevsky dengan gitar fuzz dan flute. Sebuah catatan dalam industri yang menuntut semua orang “keep it simple, stupid.”

Progresif rock adalah genre yang tidak mengemis validasi. Ia tahu dirinya tidak seksi. Ia tahu bahwa anak-anak muda hari ini menganggap solo keyboard Rick Wakeman sebagai “bapak-bapak lagi ngulik Excel.” Tapi ia terus bertahan. Di ruang bawah tanah, di forum Reddit, di komunitas Discord bernama The Wall of Sound but Make it Sad.

Pemberontak filosofis

Dalam semesta TikTok, Anda harus menarik perhatian dalam 0,7 detik atau algoritma membuang Anda ke kuburan digital bersama Vine. Tapi denyut rock progresif tak berhenti. Musisi progresif tetap memulai lagu dengan suara hujan, lalu memunculkan narasi tentang trauma masa kecil, serta build-up selama empat menit sebelum masuk ke bagian utama. Itu baru Part I: Awakening.

Dan isi liriknya tentang alienasi manusia modern di bawah jeratan sistem konsumsi global. Musik progresif tak peduli tentang charts. Mereka peduli tentang zeitgeist. Menyuarakan keresahan bahwa kita semua hanya pion dalam catur korporasi besar yang menjual kebahagiaan dalam bentuk notifikasi.

Ironisnya, justru karena budaya pop semakin kosong, ada ruang bagi pendengar untuk kembali haus akan makna. Generasi muda yang lelah dengan kapitalisme disko mulai menemukan keindahan dalam lirik Time dari Pink Floyd:

“And then one day you find/Ten years have got behind you/No one told you when to run/You missed the starting gun.”

Lagu ini tidak dibuat untuk viral. Tapi justru karena itu, ia abadi.

Bentuk perlawanan epik

Progresif rock bukan sekadar genre. Ia adalah bentuk perlawanan melodramatis terhadap simplifikasi massal pikiran manusia. Ia mengajak berpikir. Ia menantang untuk merasa, memahami, dan mungkin (hanya mungkin) berubah.

Jadi jika suatu saat Anda tergoda ikut tren TikTok dengan remix dangdut AI X Taylor Swift, cobalah dengarkan Close to the Edge dari Yes. Hanya 18 menit, tiga bagian, dan satu perjalanan spiritual yang lebih dalam dari semua playlist Spotify “Deep Focus” digabungkan.

Karena kadang untuk menjadi manusia yang utuh, kita butuh lebih dari sekadar 15 detik dan filter AR.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Geger Kenaikan PBB 250 Persen di Bumi Mina Tani

Geger Kenaikan PBB 250 Persen di Bumi Mina Tani

Pati, Jawa Tengah, geger

Next
Mengapa Rumah Tempat Pembacaan Proklamasi Dibongkar?

Mengapa Rumah Tempat Pembacaan Proklamasi Dibongkar?

17 Agustus 1945, sekitar pukul 10

You May Also Like
Total
0
Share