Di pemakaman Groenesteeg, Kota Leiden, Belanda, pernah terbaring jasad anak muda Indonesia. Ia gugur dalam perlawanan (het verzet) antifasisme di negeri Belanda pada 1940-an.
Di atas batu nisannya terpatri kata-kata: Lag Hier Begraven Irawan Soejono, Indonesische Student Pi, “Henk Van De Bevrijding”, Verzetsstrijder. Jika terjemahkan dalam bahasa Indonesia: Di sini terbaring Irawan Soejono, mahasiswa anggota Perhimpunan Indonesia (PI), “Henk Sang Pembebas”, Pejuang Perlawanan.
Saya menyempatkan menziarahi makamnya saat singgah sebentar di Negeri Kincir Angin itu. Saya tertarik dengan jejak-jejak Irawan Soejono setelah membaca kisahnya yang ditulis oleh wartawan Kompas, Bre Redana, pada 2021.
Namun, nisan Irawan Soejono di Groenesteeg sebetulnya hanya batu peringatan (memorial stone). Pada 14 November 1946, kuburan itu digali kembali, lalu jenazahnya diangkat dan dikremasi di krematorium Westerveld.
Pada 7 Desember 1945, abu jenazah Irawan pulang ke Indonesia, dibawa kawan seperjuangannya, Rachmad Koesoemobroto, untuk diserahkan kepada keluarga. Abu jenazah Irawan kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
Kisah Irawan sangat menarik. Seorang mahasiswa Indonesia yang tinggal di negeri Belanda, yang negerinya sendiri sedang dijajah oleh Belanda, namun terlibat dalam kelompok perlawanan untuk menentang fasisme. Bagi kita, generasi yang berjarak lebih dari delapan dekade dari peristiwa itu, kisah sejarah ini patut untuk diketahui.
Kisah Irawan Soejono dan ratusan anak muda Indonesia lainnya yang terlibat dalam kelompok perlawanan antifasis tak hanya menyuguhkan kisah heorik, tetapi juga sarat nilai-nilai yang melampaui bingkai nasionalisme sempit. Kisah anak-anak muda yang membuat terbitan terlarang, membantu distribusi pangan bagi yang terperangkap dalam kelaparan, menyembunyikan orang-orang Yahudi dari kejaran Nazi, dan terlibat dalam perjuangan bersenjata dengan gagah berani.
Kisah Irawan Soejono, yang mengobarkan semangat antifasisme, perlu dituturkan kepada generasi kini.
Pindah ke Belanda
Irawan lahir pada 24 Januari 1920 di Pasuruan, Jawa Timur. Dia adalah anak dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Raden Adipati Ario Soejono, menjabat sebagai bupati dan juga merupakan anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Hindia Belanda.
Pada 1930, keluarga ini pindah ke Belanda. Ayahnya, yang berstatus anggota Volskraad, mendapat beasiswa tugas belajar. Irawan dan tiga saudaranya ikut diboyong ke Belanda. Mereka tinggal di Den Haag. Pada 1932, setelah tugas belajarnya selesai, keluarga ini pulang.

Di Hindia, Irawan bersekolah di Bataviaasch Lyceum. Di sekolah ini, dia seangkatan dengan Peter Tazelaar, orang yang kelak juga terlibat dalam gerakan perlawanan. Namun, dua tahun kemudian, keluarganya berangkat lagi ke Belanda.
Pada 1940, orang tua Iriawan kembali ke Hindia. Sementara Irawan dan saudara-saudaranya tetap di negeri Belanda untuk melanjutkan studi. Irawan sendiri mengambil kuliah di Universitas Leiden.
Saat kuliah inilah Irawan bersentuhan dengan Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah organisasi mahasiswa Indoenesia di Belanda yang berdiri pada 1908 dan awalnya bernama Indische Vereeniging. Pada 1930-an, PI semakin condong ke kiri dan anti-imperialis.
Begitu aktif di PI, jalan hidup Irawan seperti berkelok tajam. Dari anak bangsawan, bapaknya mengabdi kepada Hindia, tetapi dirinya justru menjadi pejuang kemerdekaan. Ia mengambil jalan antikolonialisme.
Menentang fasisme
Pada 10 Mei 1940, fasisme Jerman mulai menginvasi Belanda. Tanpa perlawanan berarti, kerajaan Belanda bertekuk lutut hanya berselang lima hari kemudian.
Di bawah pendudukan fasis, kondisi ekonomi dan politik memburuk. Secara ekonomi, logistik dan makanan dikuasai Nazi, sementara warga dipaksa memakai kupon untuk membeli makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Secara politik, pers dibredel, parpol dibubarkan, jam malam diberlakukan, dan teror terjadi di mana-mana.
Saat itu, ada ribuan orang Indonesia di negeri Belanda. Sekitar 150-an di antaranya adalah mahasiswa. Sisanya terdapat pelaut, pekerja rumah tangga, pekerja pelabuhan, dan seniman.
Mereka juga terdampak berat oleh pendudukan Nazi. Komunikasi dengan Hindia terputus sama sekali. Tidak ada pelayaran dari Belanda ke Hindia. Surat-menyurat berhenti total. Pengiriman barang juga terhenti.

Pada 1940, Komisaris Reich Nazi, Arthur Seyss-Inquart, mengeluarkan dekrit Ariërverklaring (Deklarasi Arya). Dekrit ini mewajibkan seluruh institusi memecat pegawai dan akademisi yang memiliki darah Yahudi.
Di Universitas Leiden, tempat Irawan menempuh studi, ada dosen Yahudi yang diberhentikan paksa atas tekanan fasis Jerman. Para pengajar dan mahasiswa tak terima. Mereka menggelar aksi pemogokan. Aktivis PI, termasuk Irawan, terlibat aktif dalam aksi pemogokan itu.
Nazi merespons aksi mogok itu secara kejam. Dekan Fakultas Hukum Universitas Leiden, Profesor Rudolph Cleveringa, yang berpidato mengecam Nazi, langsung ditangkap. Kampus sempat ditutup sementara, hingga akhirnya ditutup total.
Bergabung dalam perlawanan
Pada 1940, koran milik PI, Indonesia Merdeka, dilarang terbit. Sebagai gantinya, mereka mendirikan koran ilegal: Madjallah. Media ini didistribusikan secara ilegal dan terbatas kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda.
Pada Juni 1941, Gestapo/SS mulai mengendus aktivitas anti-fasis oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PI. Kantor PI di Amsterdam digrebek. Di Leiden, kawan dekat Irawan, Sidartawan, tertangkap. Ia langsung digiring paksa ke kamp konsentrasi di Dachau. Irawan berhasil lolos dari penyergapan ini. Sidartawan meninggal di kamp konsentrasi Dachau pada 1942 akibat sakit dan penyiksaan.
Akhir 1941, Irawan pindah ke Amsterdan. Di kota yang dijuluki ”Venesia utara” itu, ia mendaftar di Universitas Amsterdam. Di kota ini, aktivitas anti-fasis menguat.
Irawan ikut dalam aktivitas memproduksi dan mendistribusikan koran-koran ilegal. Mereka terkait dengan distribusi dua koran anti-fasis, Het Parool dan Vrije Nederland. Selain itu, bersama kawannya sesama aktivis PI, Slamet Faiman, ia menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran Nazi. Tentu saja, di masa itu, aktivitas ini sangat berbahaya.
Pada 1943, Belanda memaksa seluruh warga untuk menyerahkan radio dan alat komunikasi lainnya. Sebagai gantinya, warga hanya diperkenankan mendengar propaganda Nazi. Sebagai responsnya, tujuh orang Indonesia di Den Haag, di antaranya Sie Soe Giang dan Nazir Datuk Pamuntjak, mendirikan koran Feiten (Fakta).

Koran ini berbahasa Belanda. Targetnya menjangkau seluas-luasnya warga Belanda agar mereka tak terpapar oleh propaganda Nazi. Namun, keberadaan Feiten terendus. Kantor produksi mereka disatroni. Mereka yang tertangkap langsung dikirim ke kamp konsentrasi.
Pada Mei 1944, sebuah koran baru muncul. Namanya, De Bevrijding (Pembebasan). Irawan punya andil besar di balik produksi dan distribusi koran ini. Terbit tiga kali seminggu, koran ini memproduksi 3.500 hingga 20 ribu eksemplar per edisi. Bertindak sebagai redaktur, antara lain, Sutan Pamuntjak, Alex Ticoalu, Suripno, Kusumobroto, dan FKN Harahap.
Pada akhir 1944, Irawan dan aktivis PI lainnya mendirikan kelompok bersenjata. Namanya, Laskar Soerapati. Laskar ini tak hanya mengumpulkan senjata otomatis (sten gun), tetapi juga melakukan sabotase yang mengacaukan distribusi logistik dan komunikasi tentara Nazi.
Laskar ini juga yang bertanggungjawab dalam memastikan produksi dan distribusi koran De Bevrijding. Irawan yang sering melakukan tugas ini dengan bersepeda, membawa koper, atau gerobak.
Tahun itu juga laskar Soerapati bergabung dalam Binnenlandse Strijdkrachten (BS), simpul komando pasukan perlawanan Belanda yang berada di bawah komando Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana.
Menekuni aktivitas berbahaya, nyawa Irawan terancam. Setidaknya dia dua kali lolos penyergapan. Yang pertama, ia lari sekencang-kencangnya dari kepungan dan kejaran tentara Nazi. Yang kedua, ia melompat dari trem saat terjadi razia.

Namun, pada 13 Januari 1945, ketika sedang membawa suku cadang mesin stensil yang biasa digunakan untuk mencetak majalah perlawanan De Bevrijding, Irawan bertemu razia Wehrmacht. Ia mencoba berbelok ke jalan sempit, tetapi seorang anggota Wehrmacht melihat dan menembaknya. Irawan gugur di tempat.
Irawan sempat di bawa ke rumah sakit di Rijnsburgerweg. Beberapa kawannya sempat melihat jenazahnya yang terbujur kaku di dalam peti. Ia kemudian disemayamkan di Rumah Sakit Sint Elisabeth di Hooigracht, lalu dimakamkan di pemakaman Groenesteeg pada lubang tanah nomor 522.
Sepeninggal Irawan, Laskar Soerapati mengganti nama menjadi grup perlawanan ”Irawan Soejono”.
Anti-fasis dan anti-kolonial
Pada 1920-an, setelah datangnya generasi baru dan persinggungan dengan tiga serangkai dan kaum komunis, Indische Vereeniging menjadi radikal dan anti-kolonial.
Pada 1922, Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging. Zaman itu, mengadopsi nama “Indonesia” jelas tindakan radikal. Puncaknya, pada 1925, selain berganti menjadi Perhimpoenan Indonesia, PI menerbitkan manifesto politik yang terang-terangan memperjuangkan Indonesia merdeka.
Pada 1930-an, seiring dengan naiknya Adolf Hitler dan Partai Nazi, PI mulai mengendus bahaya fasisme. Mereka bahkan terlibat dalam konsolidasi antifasisme di Eropa. Bagi mereka, fasisme tak hanya mengancam perjuangan kemerdekaan, tapi juga membahayakan demokrasi. Sebab, tanpa ruang demokrasi, perjuangan kemerdekaan akan semakin sulit.
”Dalam perjuangan untuk menegakkan demokrasi di Indonesia, dalam perjuangan demi hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Indonesia, tidaklah tepat jika kita hanya memperjuangkan demokrasi untuk Indonesia saja, melainkan kita harus berdiri di garda terdepan untuk membelanya di mana pun demokrasi itu terancam,” kata Alex Ticoalu, anggota PI, di majalah De Bevrijding, 2 Juni 1945.
Selain itu, bagi PI, fasisme bukan hanya mengancam demokrasi, tetapi juga menginjak-injak kemanusiaan. Ideologi rasis mereka sangat berbahaya bagi kemanusiaan. Slogan mereka berseru: Eerst Nederland bevrijden dan Indonesia” (Bebaskan Belanda terlebih dahulu kemudian Indonesia merdeka).

Penghormatan
Kiprah anak-anak muda Indonesia dalam pembebasan Belanda dari fasisme mendapat pengakuan dari pemerintah Belanda.
Pada 9 Mei 1945, tepat beberapa hari setelah pasukan Nazi Jerman menyerah tanpa syarat di Belanda, parade penghormatan militer resmi dilakukan di jalanan Kota Leiden dengan melibatkan grup pasukan Irawan Soejono.
Pada 4 Mei 1990, nama Irawan diabadikan menjadi nama jalan Irawan Soejonostraat di Osdorp, Amsterdam.
Pada Maret 2015, Buku Leiden 40-45 karya Hans Blom dan Alphons Siebelt memverifikasi penembakan mahasiswa Indonesia Irawan Soejono oleh patroli Jerman Nazi di Leiden pada 13 Januari 1945. Buku ini menyoroti perlawanan bawah tanah dan memuat arsip foto langka, serta mendorong pemasangan batu peringatan untuk Soejono.
Kemudian, pada 4 Mei 2016, di Hari Berkabung Nasional (Dodenherdenking), Yayasan Pemeliharaan Pemakaman Groenesteeg memasang batu nisan khusus atau batu peringatan (gedenksteen) untuk Irawan Soejono di pemakaman tua Groenesteeg, di Leiden. Bersamaan dengan itu, ada penerbitan buku 50 halaman berjudul ”Irawan Soejono – ‘Henk van de Bevrijding’: Verzetsheld van Indonesische afkomst”.
Pada 24 Januari 2022, bertepatan dengan peringatan hari lahir Irawan Soejono ke-102, seniman komposit Annet Ardesch menyerahkan potret Soejono kepada sejarawan Universitas Leiden, Pieter Slaman.
Kita patut mengenang Irawan Soejono. Di sebuah masa ketika idealisme politik begitu gampang ditukar dengan tawaran jabatan dan gaji besar, negeri ini butuh Irawan-Irawan baru yang secara tulus berjuang bagi bangsa dan rakyatnya, demi demokrasi dan kemanusiaan.










