Di tengah dunia yang kontras antara kemewahan dan kesenjangan sosial, termasuk di negara-negara mayoritas muslim, sosok Abu Dzar al-Ghifari (ra) seharusnya menjadi pengingat.
Sahabat Nabi Muhammad SAW ini dikenal sebagai pembela gigih kaum mustadhafin—kaum lemah, miskin, dan tertindas. Dengan kezuhudan (kesederhanaan) yang luar biasa dan keberanian menyuarakan kebenaran, ia menjadi teladan abadi bagi umat Islam. Nabi sendiri memujinya sebagai orang paling jujur di muka bumi. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa Islam sejati adalah agama yang berpihak kepada yang lemah, bukan yang kuat dan kaya raya.
Jejak kehidupan
Nama asli Abu Dzar adalah Jundub bin Junadah bin Sakan al-Ghifari. Ia lahir sekitar tahun 590-594 M, 20 tahun sebelum kenabian, di Lembah Waddan dekat Makkah. Keluarganya berasal dari suku Ghifar, suku Badui yang terkenal sebagai perampok kafilah dagang di masa Jahiliyah. Ayahnya bernama Junadah bin Sakan. Ia memiliki saudara laki-laki bernama Unais (atau Anis) dan seorang ibu yang kelak ikut masuk Islam. Keluarganya hidup keras di padang pasir, jauh dari kemewahan kota Makkah.
Masa kecil Abu Dzar penuh tantangan. Lingkungan sukunya penuh kekerasan dan perampokan. Sebelum Islam, ia ikut merampok kafilah orang kaya, tetapi hasil rampokan selalu dibagikan kepada kaum miskin. Ia seperti “Robin Hood” Arab. Meski demikian, hatinya sudah condong kepada tauhid. Ia tidak pernah menyembah berhala, bahkan sudah menunaikan salat menghadap Allah selama tiga tahun sebelum bertemu Nabi Muhammad. Sifat idealisnya sering membuatnya bertentangan dengan sukunya, hingga ia pernah meninggalkan kampung halaman mencari kebenaran.
Menjadi muslim
Suatu hari, Abu Dzar mendengar kabar ada seorang pria di Makkah yang mengaku nabi. Ia menyuruh saudaranya Unais menyelidiki. Unais pergi, bertemu Rasulullah SAW, mendengar Al-Qur’an, lalu masuk Islam. Pulang, ia menceritakan kepada Abu Dzar. Dengan hati penuh gelora, Abu Dzar berangkat ke Makkah membawa kantong air dan tongkat.
Di Makkah, ia bertemu Ali bin Abi Thalib ra yang membawanya ke Rasulullah SAW. Nabi membacakan ayat Al-Qur’an. Tanpa ragu, Abu Dzar langsung mengucap syahadat. Ia adalah salah satu dari lima orang pertama yang masuk Islam (assabiqunal awwalun). Nabi SAW meminta ia pulang diam-diam ke sukunya hingga Islam kuat. Tetapi Abu Dzar tidak bisa menahan diri. Ia langsung pergi ke Ka’bah dan berteriak lantang: “Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muhammadar rasūlullāh!” Kaum Quraisy marah besar, memukulinya hingga pingsan. Abbas bin Abdul Muthalib menyelamatkannya dengan mengingatkan bahwa suku Ghifar adalah mitra dagang Quraisy.
Abu Dzar pulang dan berdakwah. Hampir seluruh suku Ghifar masuk Islam, termasuk ibu dan saudaranya. Ia menjadi orang pertama yang mengucapkan salam Islam kepada Nabi: “Assalamualaika ya Rasulallah.”
Kesederhanaan hidup yang luar biasa
Abu Dzar terkenal dengan kezuhudannya yang ekstrem. Ia hidup sangat sederhana, menolak segala bentuk kemewahan. Rumahnya di Rabdzah (tempat pengasingannya) hampir kosong, tanpa perabot mewah. Ketika tamu bertanya, “Di mana perabot rumahmu?” ia menjawab, “Kita punya rumah di akhirat, jadi perabot terbaik sudah saya kirim ke sana.” Ia menganggap menyimpan harta lebih dari kebutuhan adalah haram.
Rasulullah SAW memberi tujuh wasiat kepadanya yang menjadi pedoman hidup: (1) Cintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) Lihat orang di bawahmu (dalam hal dunia) agar bersyukur, (3) Sambung silaturahmi meski mereka kasar, (4) Perbanyak ucapan “Lā haula wa lā quwwata illā billāh”, (5) Katakan kebenaran meski pahit, (6) Jangan takut celaan orang dalam berdakwah, (7) Jangan meminta-minta kepada manusia. Wasiat ini ia pegang teguh seumur hidup.
Keberpihakan pada kaum miskin
Kisah Abu Dzar al-Ghifari dengan Muawiyah bin Abu Sufyan adalah salah satu konflik paling menonjol mengenai prinsip zuhud dan keadilan sosial dalam sejarah Islam awal. Sebagai sahabat yang anti-kemewahan, Abu Dzar secara vokal mengkritik gaya hidup mewah Muawiyah dan elite Syam yang menimbun harta, berpegang pada Surah At-Taubah ayat 34.
Abu Dzar, yang hidup sangat sederhana, menyaksikan para penguasa di Syam (masa kekhalifahan Utsman bin Affan) mulai menumpuk harta, yang ia anggap menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. Saat Muawiyah membangun istana hijau dan mengumpulkan kekayaan, Abu Dzar menegurnya, “Jika bangunan ini didirikan dari uangmu, ini pemborosan; jika dari uang rakyat, ini khianat”.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Abu Dzar menolak membedakan antara harta zakat dan harta pribadi (kekayaan publik) yang dikelola elite. Karena kritik tajamnya membuat rakyat Syam mulai terpengaruh, Muawiyah mengadu kepada Khalifah Utsman bahwa Abu Dzar merusak stabilitas masyarakat.
Utsman bin Affan kemudian memanggil Abu Dzar ke Madinah. Meskipun awalnya diminta menetap di Madinah, Abu Dzar merasa tidak nyaman dengan situasi sosial-politik yang ada dan memilih untuk pindah ke tempat terpencil bernama Rabadhah. Ini sering dianggap sebagai bentuk pengasingan “halus” karena keteguhannya dalam mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah.
Abu Dzar meninggal dunia dalam keadaan miskin dan sendirian bersama istri dan seorang pelayannya di Rabadhah pada tahun 32 H. Sesuai dengan nubuat Rasulullah SAW bahwa ia akan “hidup sendiri, mati sendiri, dan dibangkitkan sendiri,” jenazahnya kemudian diurus oleh Abdullah bin Mas’ud dan kelompoknya yang kebetulan melintas.
Keistimewaan sebagai sahabat nabi
Rasulullah SAW sangat mencintai Abu Dzar. Beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun di atas bumi ini yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar.” Saat perang Tabuk, Abu Dzar berjalan kaki karena keledainya lemah. Nabi memujinya: “Semoga Allah merahmati Abu Dzar yang berjalan sendirian, hidup sendirian, dan mati sendirian.” Nabi juga meramalkan ia akan dimakamkan oleh orang saleh dari Irak—yang terbukti ketika Abdullah bin Mas’ud ra dan rombongan dari Kufah menyalatkannya.
Ia ikut banyak perang, tinggal di Suffah bersama fakir miskin, dan tetap setia kepada Ahlul Bait. Keberanian dan kejujurannya membuatnya termasuk “empat pilar” sahabat utama.
Kisah Abu Dzar mengajarkan lima hal penting bagi umat Islam:
- Zuhud dan kesederhanaan. Dunia hanyalah tempat singgah, akhirat adalah tujuan akhirnya. Jangan menghabiskan hidupmu untuk menumpuk sesuatu, semisal harta, yang tak terbawa ke akhirat. Perbanyaklah amal dan kebaikan.
- Berpihak kepada kaum miskin. Islam menunjung tinggi keadilan sosial, menganjurkan redistribusi kekayaan melalui zakat, fidyah, infak, dan sedekah. Islam tidak sejalan dengan kapitalisme tanpa kendali.
- Keberanian berkata haq. Meski pahit dan berisiko, katakan kebenaran. Jangan menjadi pengecut, munafik, apalagi penjilat. Jangan tukar kebenaran dengan iming-iming harta dan jabatan.
- Mandiri dan tawakal. Jangan meminta-minta, berusaha keraslah dipandu dengan doa dan serahkan segala kepada Allah. esungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).
- Cintai dan hormati sesama. Dekatkan diri dengan saudara seiman maupun tetap bersilaturahmi dengan saudara bukan seagama. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib RA: Jika dia bukan saudaramu dalam agama (tidak seiman), maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”
Hari ini, di era kesenjangan ekonomi, teladan Abu Dzar mengingatkan umat untuk tidak terlena dunia. Ia wafat tahun 32 H (653 M) di Rabdzah dalam kesederhanaan total, tetapi namanya abadi dalam sejarah Islam sebagai pembela kaum lemah.
Semoga Allah meridainya dan menuntun kita untuk meneladani jejak langkahnya. Aamiin.
Catatan: Foto ilustrasi bukanlah sosok Abu Dzar Al Ghifari, melainkan foto musafir muslim Mesir yang tengah beribadah di tengah padang pasir. Foto tersebut hanya ilustrasi untuk artikel.










