Jejak Perjuangan Rasuna Said

Di Jakarta, nama Rasuna Said sangat dikenal orang. Setiap hari, ratusan ribu kendaraan melintas di jalan besar yang memakai namanya, terperangkap dalam denyut nadi kota yang tak pernah berhenti. Nama Rasuna Said tak hanya terpahat di plang jalan, tapi juga di buku sejarah, dan di dalam daftar pahlawan nasional.

Meski nama besarnya diabadikan, tapi jejak dan api perjuangannya kerap terlupakan dalam ingatan kolektif kita. Sampai-sampai seorang kawan pernah bertanya polos: Rasuna Said itu laki-laki atau perempuan, ya?

Pertanyaan itu bukan kelakar. Ia adalah cermin retak yang menunjukkan betapa kita telah melupakan salah satu perempuan paling berani yang pernah dilahirkan republik ini. Untuk mengenal Rasuna, kita harus kembali ke Ranah Minang pada awal abad ke-20, ke sebuah kawah ideologi yang mendidih.

Lahir di zaman bergerak

Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Maninjau pada 14 September 1910, di tengah pusaran zaman yang gelisah. Sumatera Barat saat itu adalah sebuah laboratorium gagasan raksasa. Di sana, Islam modernis yang progresif, nasionalisme yang membara, dan Marxisme yang menggugat, saling berkelindan dan berdebat. Batasan ideologi tidak sekaku tembok penjara. Ia cair, memungkinkan seorang tokoh Thawalib (gerakan reformis Islam), seperti Jamaluddin Tamin juga menjadi pendiri Sarekat Rakyat yang berhaluan kiri.

Rasuna Said. Kredit: National Geograpic Indonesia

Di dalam kawah inilah Rasuna ditempa. Ia menyerap ilmu di pesantren, namun juga menghirup udara pergerakan yang disebarkan oleh guru-gurunya seperti Zainuddin Labai el-Junusiah. Ia melihat bagaimana Islam bisa menjadi alat pembebasan, bukan sekadar ritus. Tak heran, di usia belianya, Rasuna sudah terjun ke dalam politik praktis. Menjelang pemberontakan PKI 1926, ia bergabung dengan Sarekat Rakyat dan menjabat sekretaris cabang. Sebuah langkah radikal yang menunjukkan keberaniannya sejak dini.

Meski kebersamaannya dengan Sarekat Rakyat singkat akibat represi Belanda pasca-pemberontakan, DNA perlawanan itu telah tertanam dalam dirinya. Ia kemudian menemukan kendaraan baru dalam Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI), sebuah organisasi politik Islam yang kental dengan semangat anti-kolonialisme. Di sinilah takdir menemukan bakat terbesarnya.

Singa podium

Jika ada satu senjata utama Rasuna, itu adalah lidahnya. Ditempatkan di seksi propaganda PERMI, ia menemukan panggungnya. Mimbar-mimbar rapat umum menjadi medannya. Seorang tokoh Islam, H. Hasymi, pernah melukiskan kekuatan orasinya dengan kata-kata yang menggetarkan: “Pidato-pidato Rasuna laksana petir di siang hari. Kata-katanya tajam membahana.”

Ia adalah singa betina di podium. Suaranya bukan sekadar kata-kata, melainkan ledakan yang mengguncang kenyamanan para pejabat kolonial dan membakar semangat rakyat yang tertidur. Ia tidak hanya berorasi tapi juga bertindak. Ia mendirikan “Sekolah Menyesal” untuk memberantas buta huruf, karena ia tahu kebodohan adalah sekutu utama penjajahan. Ia membuka kursus-kursus untuk perempuan, menanamkan kesadaran politik dan sosial, membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan adalah milik semua gender.

Rasuna Said. Kredit: DINAS KEBUDAYAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Tentu saja, petir akan selalu menarik badai. Kata-katanya yang menghunjam membuatnya menjadi target utama polisi rahasia Belanda (PID). Ia ditangkap karena spreekdelict—delik atau kejahatan berbicara. Ia dipenjara, dibuang jauh hingga ke Semarang. Namun, mereka salah besar jika mengira terali besi bisa membungkamnya.

Pena sebagai senjata

Selepas dari penjara, Rasuna menemukan senjata baru: pena. Ia memimpin koran radikal bernama “Raya”, yang menjadi obor perlawanan kaum nasionalis di Sumatera Barat. Ketika ruang geraknya kembali dipersempit, ia tidak menyerah. Ia pindah ke Medan dan pada 1937 mendirikan majalah mingguan “Menara Poeteri”.

Slogan majalah itu adalah gema dari pekik Sukarno: “Ini dadaku, mana dadamu”. Sebuah tantangan terbuka. Di sana, melalui rubrik pojok dengan nama samaran “Seliguri”, tintanya menari-nari. Tulisannya tajam, kupasannya menghunjam, dan sikap anti-kolonialnya tak pernah goyah. Ia berjuang untuk memasokkan kesadaran pergerakan ke dalam benak kaum perempuan.

Namun, perjuangan media independen selalu berat. Konon, hanya 10 persen pelanggannya yang membayar tagihan. Sisanya ngemplang. “Menara Poeteri” pun padam karena masalah finansial, sebuah tragedi kecil yang melukiskan betapa sulitnya merawat api perlawanan. Dan, tragisnya, itu berlangsung hingga kini.

Pejuang seutuhnya

Siapakah Rasuna di balik citranya sebagai pejuang? Ia adalah perempuan dengan jiwa yang sepenuhnya merdeka. Keterlibatannya dalam pergerakan begitu total, hingga kehidupan personalnya pun ia korbankan. Rupanya, karena sudah lama di pergerakan, Rasuna punya jiwa merdeka yang tidak bisa dikekang oleh siapa pun.

Rasuna Said. Arsip Nasional RI

Kemerdekaan jiwa ini jugalah yang membuatnya tak pernah gentar. Saat pendudukan Jepang, di hadapan seorang perwira yang menegurnya, ia menunjuk dadanya dan berkata lantang, “Boleh tuan menyebut Asia Raya, karena tuan menang perang. Tetapi di sini, tertanam pula Indonesia Raya.”

Selepas proklamasi kemerdekaan, Rasuna bergabung dengan Badan Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI). Ia juga sempat menjadi anggota Front Pertahanan Nasional di Bukit Tinggi.

Pada saat sidang KNIP (parlemen Indonesia zaman itu) di Malang, Jawa Timur, Rasuna terpilih sebagai wakil Sumatera. Ia juga sempat ditunjuk sebagai Badan Pekerja KNIP.

Pada saat itu, Rasuna sebetulnya sudah menikah. Akan tetapi, karena ia terlanjur meleburkan diri dalam pergerakan, Rasuna jarang bertemu dengan suaminya. Ia pun bercerai.

Rasuna kemudian menikah lagi dengan seorang aktivis kiri, Bariun AS. Akan tetapi, pernikahan dengan orang Medan ini juga tidak berumur panjang. Ia kembali bercerai. Rupanya, karena sudah lama di pergerakan, Rasuna punya jiwa merdeka yang tidak bisa dikekang oleh siapa pun.

Kesetiaannya pada Indonesia Raya teruji saat pemberontakan PRRI/Permesta meletus. Banyak kawan seperjuangannya dari Minang, bahkan mantan suaminya, memilih berseberangan dengan pemerintah pusat. Rasuna, dengan segala risiko, tegak berdiri di sisi NKRI dan Bung Karno. Sebuah pilihan sulit yang menunjukkan bahwa nasionalismenya melampaui ikatan kedaerahan.

Kegigihan inilah yang membuat Sukarno begitu mengaguminya. Rasuna diangkat menjadi anggota Dewan Nasional mewakili perempuan. Namun, takdir berkata lain. Di tengah badai politik 1965 yang kelam, saat sebuah zaman hendak berakhir, sang singa betina itu berpulang.

Ia dimakamkan di Kalibata, namanya diabadikan di jalan protokol. Namun, warisan sejatinya bukanlah aspal atau nisan. Warisannya adalah api—api keberanian di mimbar, api ketajaman dalam tulisan, dan api kemerdekaan dalam jiwa. Sebuah api yang seharusnya tidak hanya kita lewati, tetapi kita nyalakan kembali.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Hari Bhayangkara dan Absennya Keteladanan Hoegeng

Hari Bhayangkara dan Absennya Keteladanan Hoegeng

Refleksi di hari jadi Polri ini terasa getir

You May Also Like
Total
0
Share