# Merdika.id > Berpikir Merdeka ## Posts - [Agresi Militer AS ke Venezuela: Ambisi Minyak, Geopolitik, dan Doktrin Monroe](https://merdika.id/agresi-militer-as-ke-venezuela-ambisi-minyak-geopolitik-dan-doktrin-monroe/): Tahun 2026 baru memasuki hari ke-3, ketika orang masih sibuk membuat berbagai prediksi, dunia sudah dikejutkan oleh aksi Amerika Serikat (AS) yang melakukan serangan militer ke sebuah negara berdaulat dan menculik pemimpinnya. Sabtu, 3 Januari 2026, lepas tengah malam, AS membombardir sejumlah fasilitas militer di Ibu Kota Venezuela, Caracas, seperti pangkalan udara La Carlota dan basis militer terbesar di Fuerte Tiuna. Di pagi buta itu, diiringi oleh serangan udara, pasukan khusus AS merangsek masuk dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Menjelang subuh, Presiden Donald Trump membuat pengumuman di akun Truth Social. ”Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala… - [7 Alasan Mengapa Pilkada Lewat DPRD Harus Ditolak](https://merdika.id/7-alasan-mengapa-pilkada-lewat-dprd-harus-ditolak/): Sejumlah partai politik pendukung pemerintah, yang dimotori oleh Gerindra, Golkar, PAN, Nasdem, dan PKB, tengah bergerilya untuk meloloskan agenda pemilihan kepala daerah (Pilkada) lewat DPRD. Ide ini sebetulnya tidak baru. Pada 2014, ide pernah diloloskan oleh DPR saat pembahasan RUU Pilkada. Namun, karena protes kala itu sangat besar, Presiden SBY membatalkan agenda usang itu lewat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu). Kini, ide usang itu muncul lagi. Pahitnya, gerilya politik itu dilakukan saat penanganan bencana masih jauh dari selesai. Namun, selain kurangnya sensifitas terhadap persoalan bencana, ide itu sangat berbahaya bagi demokrasi. Berikut alasan mengapa Pilkada lewat DPRD harus ditolak. Pertama,… - [Aliansi Mantan Napol: Usut Kematian Tapol Alfarisi di Rutan Medaeng](https://merdika.id/aliansi-mantan-napol-usut-kematian-tapol-alfarisi-di-rutan-medaeng/): Aliansi Mantan Narapidana Politik Indonesia dan Papua menuntut pengusutan tuntas atas kematian tahanan politik (tapol) Alfarisi bin Rikosen di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (30/12) pagi. Tapol berusia 21 tahun itu ditahan di Rutan Medaeng, sejak September 2025, terkait aksi Agustus 2025 lalu. Menurut Aliansi, setiap kematian yang terjadi di dalam tahanan merupakan indikator serius kegagalan negara. Mereka pun menilai secara hukum pemerintah harus bertanggung jawab atas kematian Alfarisi. “Negara wajib melakukan penyelidikan secara cepat, independen, imparsial, dan transparan untuk mengungkap sebab-sebab kematian serta memastikan adanya pertanggungjawaban,” kata Petrus Hari Hariyanto, mantan Sekretaris… - [Kita Tak Bisa Lagi Menabung Kesabaran](https://merdika.id/kita-tak-bisa-lagi-menabung-kesabaran/): Saya lelah bukan karena tidak mengerti bahwa perubahan membutuhkan waktu, tetapi karena sebagai warga negara saya terus-menerus diminta sabar tanpa pernah dilibatkan secara adil. Sabar menghadapi kebijakan yang lahir tanpa penjelasan, sabar menerima kenaikan beban hidup yang disebut “konsekuensi”, sabar melihat hukum bekerja keras ke bawah namun begitu lunak ke atas. Kesabaran diproduksi sebagai kebajikan publik, padahal sering kali ia hanya menjadi bahasa sopan untuk menunda tanggung jawab kekuasaan. Dalam demokrasi, kesabaran seharusnya beriringan dengan akuntabilitas, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kesabaran dipisahkan dari hak untuk bertanya, mengkritik, bahkan marah. Ketika warga bersuara, mereka dicap tidak dewasa, tidak nasionalis, atau… - [Sir Alex Ferguson dan Politik Kiri](https://merdika.id/sir-alex-ferguson-dan-politik-kiri/): Pelaut tangguh tidak lahir dari laut yang tenang, begitu kata pepatah. Dan, seperti pelaut yang diuji badai, Alexander Chapman Ferguson—salah satu manajer terbaik dalam sejarah sepak bola ditempa dari lingkungan kota yang keras. Govan, sebuah distrik di pinggiran Kota Glasgow, Skotlandia, terkenal dengan denyut kehidupan kelas pekerja. Terletak di tepi selatan Sungai Clyde, Govan di masa lampau terkenal sebagai pusat industri perkapalan. Sang ayah, Alexander Beaton Ferguson, bekerja sebagai buruh di pabrik galangan kapal. Tidak mengherankan, Ferguson mewarisi mental ”kelas pekerja” yang keras, teguh, dan disiplin. Ia terapkan prinsip itu ketika menukangi salah satu klub terbesar di Inggris dan Eropa,… - [Ludruk: Satire, Revolusi, dan Kesenian Rakyat](https://merdika.id/ludruk-satire-revolusi-dan-kesenian-rakyat/): Tugas kesenian bukan sekadar menghidangkan hiburan. Ia juga denyut nadi kebebasan, obor yang kerap menyala di tengah gelap-gulita penindasan. Di Jawa Timur, obor itu bernama ludruk, kesenian yang lahir dari rahim rakyat, tumbuh bersama jeritan buruh dan petani, dan mekar dalam derap revolusi. Ludruk bukan sekadar panggung lawakan; ia adalah panggung perlawanan. Sejarah kelahiran ludruk Tentang asal-usul ludruk ini, ada beberapa versi penjelasan. Ada yang bilang ludruk lahir di Jombang. Namun, ada pula yang bilang ludruk dilahirkan di Surabaya. Yang jelas, ludruk lahir di Jawa Timur. Ada versi yang menyebutkan, ludruk sudah muncul tahun 1890. Penggagasnya bernama Gangsar, seorang tokoh… - [Indonesia Diusulkan Pimpin Dewan HAM PBB, Luka HAM di Dalam Negeri Masih Menganga](https://merdika.id/indonesia-diusulkan-pimpin-dewan-ham-pbb-luka-ham-di-dalam-negeri-masih-menganga/): Pengumuman Kementerian Luar Negeri pada 24 Desember 2025 mengenai nominasi Indonesia sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) untuk tahun 2026 menandai sebuah momen bersejarah diplomasi negara. Pencapaian ini, yang lahir dari kepercayaan negara-negara anggota Asia-Pacific Group (APG), menempatkan Indonesia di posisi strategis untuk memimpin dan memfasilitasi diskusi global tentang isu-isu HAM yang krusial. Dukungan internasional ini didasarkan pada persepsi Indonesia sebagai bridge builder, yakni negara berkembang independen yang mampu menjembatani berbagai kepentingan geopolitik, dan komitmennya yang konsisten terhadap isu kemanusiaan. Posisi kepemimpinan ini, yang akan diemban oleh Duta Besar Sidharto Reza Suryodipuro, menawarkan peluang unik… - [George Habash, Natal, dan Palestina](https://merdika.id/george-habash-natal-dan-palestina/): Lonceng gereja di Betlehem dan Gaza berdenting tahun ini dengan nada yang berbeda. Perayaan Natal 2025 di Palestina tampak lebih hidup setelah kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dengan Israel. Di Betlehem, Tepi Barat, kota tempat kelahiran Yesus Kristus, jalan-jalan dipenuhi keluarga dan diterangi rangkaian lampu merah. Sementara di Gaza, perayaan Natal dilakukan di tengah pengungsian dan bunyi dentuman senjata yang masih kerap terjadi. Di tengah momentum yang sakral ini, ingatan kolektif bangsa Palestina melayang pada sosok yang lahir di malam Natal hampir seabad lalu: George Habash. Ia bukan sekadar pemimpin politik, namun personifikasi dari pejuang besar yang namanya disejajarkan dengan… - [Catatan Akhir Tahun:Narasi Kerakyatan di Tengah Gelombang Represi](https://merdika.id/catatan-akhir-tahunnarasi-kerakyatan-di-tengah-gelombang-represi/): Di tengah dinamika penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh, kita dikejutkan dengan pembubaran secara paksa diskusi buku “Reset Indonesia” di Madiun, Jawa Timur. Buku yang mencoba memotret arah baru bangsa ini justru dianggap sebagai ancaman sebelum sempat dikupas lembar per lembarnya. Intimidasi berupa pelemparan telur ke mobil tim penulis menjadi titik nadir yang menegaskan satu hal: ruang bicara kita sedang menyempit. Kasus Madiun hanyalah satu kepingan dari kondisi demokrasi kita setahun terakhir. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang membawa narasi besar “ekonomi kerakyatan”, timbul pertanyaan mendasar: dapatkah kesejahteraan ekonomi tumbuh subur di atas tanah yang gersang… - [Bunda Maria, Keberanian Moral, dan Krisis Etika Bangsa](https://merdika.id/bunda-maria-keberanian-moral-dan-krisis-etika-bangsa/): Natal mengingatkan kita pada satu fakta yang sering diabaikan dalam wacana kekuasaan, yakni keselamatan dunia tidak lahir dari istana, melainkan dari rahim seorang perempuan biasa bernama Maria. Bunda Maria menjadi istimewa bukan karena status sosial, kekayaan, atau jejaring politiknya, tetapi karena keberanian moralnya menerima tanggung jawab besar di tengah situasi yang penuh risiko. Ia mengandung dan melahirkan Yesus dalam kondisi sosial yang tidak ramah, tanpa jaminan perlindungan penguasa, dan di bawah bayang-bayang stigma. Inilah ironi abadi yakni harapan justru lahir ketika sistem gagal melindungi yang lemah. Keputusan Maria untuk berkata “ya” adalah tindakan politik dalam makna paling mendasar dengan memilih… - [Mencari Jejak Tan Malaka di Rawajati](https://merdika.id/mencari-jejak-tan-malaka-di-rawajati/): Pagi terasa dingin di pengujung November 2025. Sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan dan basah di jalanan di sekitar Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan. Udara merayap menusuk pori-pori kulit, meski jam di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 06.20 WIB. Pagi itu, Jakarta mulai menggeliat; deru mesin KRL dan klakson kendaraan di jalan raya menciptakan simfoni bising. Namun, langkah kaki saya hari itu tidak sedang memburu kereta. Saya datang ke Rawajati, dengan semangat yang membara, untuk menelusuri kembali jejak Ibrahim Datuk Tan Malaka, sang revolusioner yang menjahit pertama sekali gagasan Republik Indonesia. Di daerah Rawajati itu, delapan dekade silam, sang begawan… - [Kapitalisme Media, Bisakah Crowdfunding Menyelamatkan Jurnalisme Publik?](https://merdika.id/kapitalisme-media-bisakah-crowdfunding-menyelamatkan-jurnalisme-publik/): Di sebuah sudut ruang redaksi yang kini lebih sering sunyi, denting papan ketik tak lagi seirama dengan deru mesin cetak yang dulu memenuhi udara dengan aroma tinta dan harapan. Sementara di luar sana, di layar-layar ponsel yang berpijar di tengah kemacetan Jakarta atau di sela waktu tunggu KRL, informasi mengalir deras layaknya air bah. Namun, di balik banjir informasi itu, sebuah pertanyaan getir menyeruak: apakah kita sedang membaca berita, atau sekadar mengonsumsi komoditas yang diracik demi memuaskan algoritma? Julia Cagé, profesor ekonomi dari Sciences Po, melalui pemikirannya dalam buku Saving the Media: Capitalism, Crowdfunding, and Democracy (2015), mencoba membedah anatomi… - [Senjakala Demokrasi di Bawah Bayang-bayang Neoliberalisme](https://merdika.id/senjakala-demokrasi-di-bawah-bayang-bayang-neoliberalisme/): Di sebuah panggung intelektual yang tenang namun penuh kegelisahan, Profesor Wendy Brown dari UC Berkeley menggulirkan sebuah narasi yang menggigit: “revolusi senyap”. Sebuah revolusi yang tidak datang dengan deru tank atau letusan senapan di lapangan terbuka, melainkan menyelinap melalui kebijakan, angka-angka ekonomi, dan yang paling mengerikan melalui transformasi jiwa manusia. Judul bukunya, Undoing the Demos: Neoliberalism’s Stealth Revolution, menjadi titik tolak diskusi mendalam tentang bagaimana neoliberalisme—yang sering disalahpahami hanya sebagai kebijakan pasar bebas—sebenarnya sedang membongkar fondasi paling dasar dari demokrasi. Pasar sebagai Tuhan Brown menegaskan bahwa neoliberalisme bukan sekadar reaksi terhadap negara kesejahteraan atau pembatasan intervensi pemerintah. Lebih jauh dari… - [Lima Fakta tentang Sejarah Hari Ibu](https://merdika.id/lima-fakta-tentang-sejarah-hari-ibu/): Setiap 22 Desember, Indonesia merayakan Hari Ibu. Menengok asal-usul sejarahnya, Hari Ibu bukanlah perayaan peran domestik perempuan, melainkan tentang konsolidasi pergerakan perempuan. Di Yogyakarta, pada 22-25 Desember 1928, kaum perempuan berkumpul. Di sanalah fajar emansipasi menyingsing melalui Kongres Perempuan Indonesia pertama. Selama tiga hari, para srikandi bangsa meluruhkan sekat demi menyatukan tekad dalam simfoni perjuangan melawan kolonialisme dan feodalisme. Kongres itu menjadi momentum nasional pertama yang menegaskan tekad perempuan untuk kesetaraan gender. Selain itu, kongres menegaskan kehadiran perempuan sebagai bagian penting dalam perjuangan kebangsaan yang melahirkan Indonesia merdeka. Pertama, Berasal dari Kongres Perempuan 1928 Hari Ibu, yang diperingati setiap 22… - [Croissant dan Revolusi Prancis](https://merdika.id/croissant-dan-revolusi-prancis/): Paris, Prancis di pengujung abad ke-18. Udara tidak hanya dipenuhi bau amis darah dari tajamnya pisau gilotina atau kepulan asap dari mesiu meriam di Bastille. Di sela-sela pekik “Liberté, Égalité, Fraternité”, ada aroma lain yang menyelinap dari jendela-jendela boulangerie (toko roti) yang remang-remang: mentega yang dipanggang panas, yang wanginya kelak akan menjadi identitas nasional sebuah bangsa yang sedang bersalin rupa. Croissant, dengan lekuk bulan sabitnya yang anggun dan lapisan-lapisannya yang serapuh janji politik, sering kali dianggap sebagai puncak pencapaian kuliner Prancis. Namun, sejarahnya ternyata tidaklah selurus garis cakrawala di atas Sungai Seine. Ia adalah sebuah evolusi sunyi yang terjadi di… - [Catatan Kritis atas Misi "Papua Sehat, Cerdas, Produktif”](https://merdika.id/catatan-kritis-atas-misi-papua-sehat-cerdas-produktif/): Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Papua (RAPPP) 2025-2029, yang diluncurkan dengan misi mulia “Papua Sehat, Cerdas, dan Produktif”, secara resmi diposisikan sebagai dokumen strategis untuk menutup kesenjangan pembangunan di Tanah Cenderawasih. Namun, dengan memakai analisis kritis yang mendalam menggunakan lensa Marxisme dan teori kedaulatan, tersingkap lapisan makna yang menggelisahkan. Alih-alih menjadi solusi, RAPPP justru terbaca sebagai manifestasi dari proyek hegemoni negara dan mesin atas “akumulasi primitif” yang dilegalkan, yang berpotensi memperdalam konflik struktural dan mengancam fondasi eksistensi masyarakat adat Papua. Misi itu bukan dokumen perencanaan netral, melainkan sebuah artefak politik yang mencerminkan dinamika kekuasaan dan kepentingan ekonomi di bawah narasi pembangunan.… - [Memaknai Kibaran Bendera Putih di Bumi Serambi Makkah](https://merdika.id/memaknai-kibaran-bendera-putih-di-bumi-serambi-mekkah/): Di tengah banjir yang menenggelamkan lebih dari 100 ribu rumah di Aceh, ketika listrik padam dan sinyal komunikasi lenyap, sebagian warga memilih cara paling sederhana untuk mengatakan satu hal yang paling mendesak bahwa mereka masih hidup. Sehelai kain putih diikatkan di ujung bambu, dikibarkan di atap rumah, di pinggiran jalan, atau dipasang di titik tertinggi yang masih terlihat. Tidak ada pidato, tidak ada tuntutan tertulis. Hanya tanda sunyi yang berbicara lantang tentang kerentanan sekaligus harapan akan pertolongan. Dalam situasi seperti ini, bendera putih bukan simbol politik, bukan pula ancaman keamanan. Ia adalah bahasa darurat rakyat, bentuk komunikasi paling elementer ketika… - [Dua Perempuan di Sidang BPUPKI](https://merdika.id/dua-perempuan-di-sidang-bpupki/): Di sebuah ruang pengap di Gedung Pejambon—kini Gedung Pancasila—pada pertengahan 1945, 62 orang berkumpul untuk merumuskan nasib sebuah bangsa yang belum merdeka. Di antara yang hadir tampak memakai jas bergaya Barat, seragam militer ala Jepang, juga blangkon para ningrat. Namun, di tengah samudera maskulinitas itu, terselip dua sosok perempuan yang kehadirannya bukan sekadar pelengkap protokoler, melainkan jangkar bagi perjuagan nilai-nilai hak asasi manusia dan kesetaraan gender: Maria Ullfah dan Siti Sukaptinah Soenarjo Mangoenpoespito. Mereka adalah “Dua Srikandi Pejambon,” saksi sekaligus aktor intelektual yang memastikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya milik kaum laki-laki. Maria Ullfah: Sang arsitek kesetaraan Maria Ullfah adalah… - [Demokrasi dalam Vivere Pericoloso](https://merdika.id/demokrasi-dalam-vivere-pericoloso/): Agustus 1964, di bawah langit Jakarta yang gerah, Bung Karno meneriakkan sebuah frasa yang kelak membeku dalam sejarah: tahun Vivere Pericoloso—tahun menyerempet bahaya. Kini, lebih dari enam dekade berlalu, Indonesia seolah dipaksa kembali memasuki lorong waktu yang sama. Namun kali ini, bahaya itu tidak datang dari luar, melainkan dari jantung kekuasaan yang mulai berdetak dengan ritme otoritarianisme lama. Di bawah bayang-bayang kepemimpinan Prabowo Subianto, demokrasi Indonesia sedang menjalani ujian “hidup menyerempet bahaya” yang sesungguhnya. Fenomena ini bukanlah sebuah anomali lokal, melainkan bagian dari gelombang global yang disebut sebagai “belokan otoritarian” (authoritarian turn). Kita, yang terbiasa percaya bahwa suara mayoritas secara… - [Konsep Hatta untuk Pembangunan Desa](https://merdika.id/konsep-hatta-untuk-pembangunan-desa/): Di tengah sunyi pengasingan Banda Neira yang berpagar laut biru dan aroma pala, seorang pria berkacamata menekuni kertas-kertasnya. Di sana, di bawah bayang-bayang Gunung Api Banda yang sesekali mengepulkan asap, Mohammad Hatta tidak sedang meratapi nasibnya sebagai tawanan kolonial. Antara tahun 1935 hingga 1941, pikirannya justru melintasi batas-batas pulau, menelisik jantung kehidupan bangsa yang paling hakiki: desa. Gagasan yang lahir dari pembuangan di Digul dan Banda Neira itu kemudian terangkum dalam “Beberapa Fasal Ekonomi”. Bagi Hatta, desa bukanlah sekadar gugusan rumah bambu di kaki bukit; desa adalah fondasi kedaulatan yang selama berabad-abad telah dikerdilkan oleh nalar kolonial. Keterpisahan desa dan… - [Chile Bergeser dari Kiri ke Kanan](https://merdika.id/chile-bergeser-dari-kiri-ke-kanan/): Pemilu putaran kedua Chile, yang berlangsung pada 14 Desember lalu, mengubah bandul politik negeri berpenduduk 19,7 juta jiwa itu bergeser dari kiri ke kanan. José Antonio Kast, seorang sayap kanan pengagum mantan diktator Augusto Pinochet, berhasil memenangi pemilu dengan 58,6 persen suara. Sementara kandidat dari sayap kiri, Jeannette Jara, tersungkur dengan perolehan suara 41,84 persen suara. Hasil pemilu itu mengagetkan. Satu dekade lalu, Chile menjadi palagan protes kaum muda yang memprotes neoliberalisme dan warisan kediktatoran Pinochet. Gelombang protes itu yang menggeser politik Chile semakin ke kiri. Pada 2021, Gabriel Boric, seorang mantan aktivis mahasiswa, berhasil memenangi pemilu. Ia terpilih sebagai… - [Warteg sebagai Penyangga Ekonomi Rakyat](https://merdika.id/warteg-sebagai-penyangga-ekonomi-rakyat/): Di hampir setiap daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), dari perkampungan padat hingga sela-sela gedung perkantoran, hadir warung makan yang tampak sederhana dan bersahaja. Namun, jangan salah, di balik kesederhanaannya, tersusun piring-piring berisi beragam lauk-pauk, dari aneka sayuran tumis, sayuran berkuah, orek tempe, telur balado, ikan goreng, ayam goreng, ayam gulai, sate usus dan ati-ampela, hingga beragam gorengan. Meski sederhana, pilihan lauk-pauknya bisa mencapai puluhan jenis. Itulah warteg, singkatan dari warung Tegal, sebuah ruang kecil yang menjadi penyangga besar kehidupan urban Indonesia. Warteg bukan sekadar tempat makan. Ia adalah institusi sosial, ruang aman bagi para perantau, dan denyut… - [Paradoks Papua: Di Antara Janji Pembangunan dan Jurang Kontradiksi](https://merdika.id/paradoks-papua-di-antara-janji-pembangunan-dan-jurang-kontradiksi/): Agenda percepatan pembangunan Tanah Papua di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang digaungkan dengan percaya diri, berdiri di atas sebuah titik paradoks. Di satu sisi, ia menawarkan janji untuk menutup jurang ketertinggalan dan membawa kemakmuran di sebuah tanah yang kaya raya sumber daya alam. Namun, di sisi lain, agenda ini berisiko besar memperkuat struktur ketidakadilan yang telah menjadi akar masalah di Papua selama puluhan tahun. Artikel ini menyoroti jika kebijakan percepatan masih mengandalkan paradigma lama, yakni ekstraksi sumber daya alam secara masif, marjinalisasi politik masyarakat adat, dan pendekatan keamanan yang represif, maka hasilnya bukanlah solusi, melainkan bagian dari masalah itu… - [Soe Hok Gie: Buku, Cinta, dan Aktivisme](https://merdika.id/soe-hok-gie-buku-cinta-dan-aktivisme/): Senja merayap turun di Jakarta ketika selembar surat tanpa nama tiba di rumah keluarga Soe Lie Piet. Kertasnya tipis, tulisannya kasar, dan isinya penuh ancaman. Di dalamnya, seseorang memerintahkan seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie untuk berhenti menulis kritik terhadap pemerintah. Jika tidak, ia diancam akan mati sia-sia, entah di jalanan, di tikungan gelap, atau di saat lengah. Ancaman itu ditutup dengan kalimat yang menusuk: “Cina yang tak tahu diri, pulang saja ke negerimu.” Bagi sebagian orang, surat semacam itu sudah cukup untuk membuat langkah terhenti. Namun bagi Gie, yang sejak remaja terbiasa hidup di antara buku-buku sejarah dan perdebatan… - [Membaca Bencana Aceh dari Tangis Mualem](https://merdika.id/membaca-bencana-aceh-dari-tangis-mualem/): Wawancara Najwa Shihab dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem hanya berlangsung singkat, 15 menit. Tetapi waktu yang singkat itu terasa seperti membuka pintu menuju ruang batin seorang pemimpin yang sedang memikul beban bencana yang terlalu besar untuk diungkap dengan kata-kata. Bukan hanya melalui kalimatnya, melainkan juga jeda, tatapan, air mata yang ditahan, dan tubuh yang sesekali menegang menahan luapan emosi. Membaca Mualem dalam wawancara itu seperti membaca Aceh yang sedang terluka. Ia bukan sekadar mewakili wajah pejabat, tapi juga wajah seorang ayah yang melihat anak-anaknya tenggelam dalam banjir yang tak lagi sekadar banjir. Air yang menggenangi rumah-rumah warga bukan… - [Pengangguran dan Ketimpangan Gender](https://merdika.id/pengangguran-dan-ketimpangan-gender/): Di banyak sudut Indonesia, dari gang-gang padat di Medan hingga perumahan baru di pinggiran Manado, pengangguran bukan sekadar statistik yang muncul di layar presentasi pemerintah. Ia adalah jeda yang memaksa, sebuah ruang kosong yang tiba-tiba menganga di tengah kehidupan seseorang. Kehilangan pekerjaan membawa luka ekonomi, tekanan mental, stigma sosial, bahkan retaknya hubungan rumah tangga. Namun ada satu sisi yang jarang kita bahas dengan jujur: bagaimana pengangguran memperdalam ketimpangan gender, baik di rumah maupun di tempat kerja. Dalam penelitian sosiolog Aliya Rao di Amerika Serikat, yang menjadi dasar buku Crunch Time, ia menemukan pola yang terasa sangat akrab bagi banyak perempuan… - [Politik Agraria Bung Hatta](https://merdika.id/politik-agraria-bung-hatta/): Indonesia dijuluki negara agraris, tetapi lebih dari 60 persen petaninya adalah petani gurem yang hanya mengelola tanah kurang dari 0,5 hektare dan 68 persen populasinya kesulitan mengakses pangan bergizi. Tentu saja, ini sebuah ironi. Salah satu penyebab mengapa sektor agraria belum berkontribusi maksimal dalam menyediakan kebutuhan pangan bagi setiap warga negara Indonesia adalah ketimpangan agraria. Rasio gini kepemilikan tanah sudah di angka 0,58 hingga 0,68. Itu berarti hanya 1 persen populasi menguasai 68 persen tanah. Ketimpangan itu terkonfirmasi oleh pernyataan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid. Menurut dia, dari 170 juta tanah di Indonesia, sebanyak… - [Kereta Kebahagiaan dan Kisah Anak-anak Pasca Perang](https://merdika.id/kereta-kebahagiaan-dan-kisah-anak-anak-pasca-perang/): Ada film yang biasa saja, alur ceritanya datar, visualnya pun tak memukau. Namun, karena menautkan kita dengan masa lalu, sebuah era yang penuh jerit-pedih, mata kita terasa sembap saat menontonnya. Itu yang saya rasakan setelah menonton film ”The Children’s Train” (2024). Film karya Cristina Comencini ini berusaha membawa kita mengengok Italia pasca Perang Dunia II, setelah negeri itu menjadi palagan yang mengerikan antara sekutu dan partisan versus fasisme Jerman dan Italia. Menariknya, tidak terjebak dengan romantisme pasca perang, film ini mengambil sudut pandang rakyat jelata yang nasibnya tetap terempas pasca perang. Saat itu, pada 1946, setelah perang beringsut, Italia benar-benar… - [Seminggu Diprotes Gen Z, Pemerintahan Bulgaria Mundur](https://merdika.id/seminggu-diprotes-gen-z-pemerintahan-bulgaria-mundur/): Di Sofia, Ibu Kota Bulgaria yang cantik, udara Desember menggantung seperti kabut tipis yang menahan napas sebuah bangsa. Jalan-jalan di sekitar Gedung Majelis Nasional dipenuhi suara sepatu, poster karton, dan ritme drum plastik yang dipukul anak-anak muda. Mereka datang dari sekolah, dari kantor rintisan (start-up), dari rumah-rumah kecil di pinggiran kota. Mereka datang dengan satu pesan yang menggema di seluruh Bulgaria: “You angered the wrong generation.” Pesan itu, yang lahir dari meme TikTok dan poster buatan tangan, akhirnya mengguncang sebuah pemerintahan. Dalam paduan suara protes yang nyaris tak tertandingi, ribuan protes juga berlangsung di lebih dari 25 kota besar, dari… - [Ketoprak sebagai Corong Perlawanan](https://merdika.id/ketoprak-sebagai-corong-perlawanan/): Di tanah Jawa, ketika malam turun perlahan dan angin membawa bau tanah basah dari sawah yang baru dipanen, suara lesung pernah menjadi penanda kehidupan. Denting kayu yang saling beradu, ritmis dan bersahaja, adalah musik pertama yang melahirkan sebuah kesenian: ketoprak. Dari rahim kaum tani—bukan dari istana, bukan dari ruang-ruang elite—lahir sebuah drama rakyat yang kelak menjadi corong perlawanan terhadap feodalisme dan kolonialisme. Awal abad ke-20 adalah masa ketika Hindia Belanda mulai retak oleh gelombang nasionalisme. Di tengah perubahan itu, sekitar tahun 1922, ketoprak mulai mengambil bentuknya. Konon, seorang bangsawan Mangkunegaran, RM Tumenggung Reksodiningrat, menyaksikan para petani menumbuk padi sambil bernyanyi.… - [Praktik Serakahnomics Zaman Orde Baru](https://merdika.id/praktik-serakahnomics-zaman-orde-baru/): Sesudah riuh istilah ”serakahnomics” dilontarkan, dan ketika publik sempat menaruh harapan bahwa jargon itu akan menandai babak baru dalam memerangi kerakusan ekonomi, kita justru ditampar oleh kenyataan pahit. Pada 10 November lalu, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan kepada Soeharto. Sejarah seperti dipelintir di depan mata. Pemimpin rezim Orde Baru (Orba) yang identik dengan praktik korupsi, kolusi dan dan nepotisme (KKN), yang hanya memperkaya keluarga dan kroni, kini dipoles sebagai pahlawan yang patut diteladani. Pada 2004, Transparency International (TI) menobatkan Soeharto sebagai diktator terkorup dan terkaya di dunia. Selama berkuasa, tokoh yang mendapat gelar Bapak Pembangunan itu diduga menggelapkan uang… - [Mungkinkah Indonesia Terbebas dari Korupsi?](https://merdika.id/mungkinkah-indonesia-terbebas-dari-korupsi/): Hari Antikorupsi Sedunia, yang diperingati setiap 9 Desember, kita selalu terantuk pada pertanyaan: bisakah bangsa ini terbebas dari korupsi? Pertanyaan penuh putus asa itu muncul karena seolah-olah bangsa besar ini tidak pernah bisa bebas dari korupsi. Pada 2024, angka Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2024 Indonesia masih skor 37 dari 100, naik tiga poin dari tahun sebelumnya, dan berada di peringkat 99 dari 180 negara. Angka ini seperti denyut nadi yang lemah, menandakan perbaikan kecil tapi masih jauh dari “bersih”. Sementara itu, menurut Biro Pusat Statistik (BPS), Indeks Perilaku Antikorupsi (IPAK) 2024 Indonesia adalah 3,85 (skala 0-5), yang menunjukkan bahwa masyarakat… - [Menanti Aksi Potong Gaji Pejabat Negara untuk Bencana di Sumatra](https://merdika.id/menanti-aksi-potong-gaji-pejabat-negara-untuk-bencana-di-sumatra/): Siklon Senyar, yang menumpahkan hujan ekstrem antara 300–411 mm per hari, menerjang sedikitnya 52 Kabupaten/kota yang tersebar di tiga provinsi di Sumatera: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 8 Desember 2025, jumlah korban meninggal sudah mencapai 961 orang, sebanyak 293 orang dinyatakan hilang, lebih dari 1 juta orang mengungsi, dan 3,3 juta orang terdampak. Selain itu, banjir juga menelan 156 ribu rumah, 435 jembatan, 1.200 fasilitas umum, serta 534 sekolah. Untuk pemulihan, BNPB memperkirakan biayanya sekitar Rp 51,82 triliun. Sedangkan taksiran Celios, total kerugian mencapai Rp 68,67 triliun. Hampir dua pekan pasca… - [Reggae, Lucky Dube, dan Getaran Politik di Papua](https://merdika.id/reggae-lucky-dube-dan-getaran-politik-di-papua/): Pada 3 Desember 2025, Lapangan PTC Entrop, Jayapura, Papua, menjadi saksi sebuah peristiwa yang melampaui sekadar pertunjukan musik. Konser legendaris Lucky Dube, bertajuk “From Africa to the World,” bertransfigurasi menjadi sebuah momen politis yang sarat dengan simbolisme dan ketegangan, yang berakhir dengan intervensi aparat keamanan. Acara yang seharusnya menjadi perayaan musik internasional, terpaksa dihentikan 43 menit setelah dimulai, meninggalkan ribuan penonton dalam kekecewaan dan membuka luka frustrasi politik yang telah lama mendidih di Tanah Papua. Peristiwa ini bukanlah insiden biasa, melainkan sebuah titik kritis di mana kekuatan budaya, identitas kolektif, dan otoritas negara bertabrakan secara terbuka. Reggae sebagai suara perlawanan… - [Prabowo di Tengah Duka Sumatera](https://merdika.id/prabowo-di-tengah-duka-sumatera/): Melihat tangan-tangan mencari pegangan, hati kita tercabik amarah membuncah. Saat berita menampilkan puing-puing sisa banjir bandang dan longsor, setiap mendengar jerit pilu korban yang kehilangan sanak saudara dan harta benda di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, kita ikut berduka. Kita berdiri dalam solidaritas bersama mereka yang kini terpaksa hidup dalam ketidakpastian, menjadi korban abadi bencana ekologis ini. Doa sebangsa pun terus terpanjat untuk saudara kita di sana. Tanpa mengurangi rasa simpati dan hormat atas tindakan pemulihan, kita patut berpikir kritis tentang apa yang menjadi penyebab bencana ini agar tidak terjadi lagi di masa depan. Seberapa alamiah bencana ini? Ketika… - [Kosta Rika, Negeri Paling Hijau di Dunia](https://merdika.id/kosta-rika-negeri-paling-hijau-di-dunia/): Di jantung Amerika Tengah, Kosta Rika berdiri sebagai sebuah paradoks yang menawan: negara kecil dengan luas hanya sekitar 51 ribu kilometer persegi, namun menyimpan lebih dari 5 persen keanekaragaman hayati dunia. Dari hutan hujan tropis yang berlapis kabut hingga pantai Pasifik yang berkilau, negeri ini seolah menjadi puisi hijau yang ditulis oleh bumi. Kosta Rika, dengan luas yang tak lebih besar dari Provinsi Jawa Barat, telah membuktikan bahwa kemakmuran sejati diukur bukan dari tumpukan baja atau ledakan industri, melainkan dari tegaknya sebuah kanopi hutan. Jejak hijau yang menginspirasi Pada dekade 1980-an, Kosta Rika menghadapi krisis deforestasi yang mengancam paru-paru alamnya.… - [Krisis Tata Kelola Hutan di Indonesia](https://merdika.id/krisis-tata-kelola-hutan-di-indonesia/): Sebuah narasi krisis menggerogoti fondasi Indonesia secara perlahan namun pasti. Bukan berasal dari gejolak politik atau ancaman ekonomi semata, melainkan dari deru mesin pembabat hutan yang semakin terdengar kencang. Krisis tata kelola hutan Indonesia telah berubah menjadi ancaman eksistensial, sebuah siklus destruktif di mana deforestasi memicu bencana, yang memperparah penderitaan. Di pusat pusaran ini, bukan hanya aktivitas ilegal di lapangan, melainkan keputusan-keputusan strategis di ruang kekuasaan yang justru membuka gerbang bagi kerusakan masif. Jejak kebijakan Zulkifli Hasan, dari masa jabatannya sebagai Menteri Kehutanan hingga kini sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, menjadi lensa yang mengungkap bagaimana kepentingan ekonomi jangka pendek seringkali… - [Kasus Dewi Astutik: Pola Baru Sindikat Narkoba](https://merdika.id/kasus-dewi-astutik-pola-baru-sindikat-narkoba/): Kasus Dewi Astutik membuka kembali luka lama Indonesia terhadap jaringan narkoba yang bekerja jauh lebih canggih daripada sekadar transaksi gelap di pinggiran kota. Publik melihat seorang perempuan yang mampu bergerak lintas negara selama bertahun-tahun, memanfaatkan celah hukum dan lemahnya koordinasi antarinstansi, hingga mencetak nilai transaksi yang disebut mencapai Rp 5 triliun. Di tengah prevalensi penyalahgunaan narkoba yang kini mencapai 1,73 persen atau 3,33 juta pengguna menurut BNN (2023), kasus sebesar ini bukanlah anomali, namun potret dari pasar yang terus tumbuh dan menelan generasi produktif Indonesia. Dewi tidak beroperasi seperti pengedar konvensional. Ia memanfaatkan perubahan global dan pola peredaran sabu Asia… - [Elite Politik dan Bencana di Sumatera](https://merdika.id/elite-politik-dan-bencana-di-sumatera/): Hujan ekstrem hingga lebih dari 400 milimeter per hari, yang dipicu oleh siklon senyar, memicu banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 753 orang meninggal, 650 orang hilang, 2.600 orang luka-luka, dan lebih dari 576 ribu orang mengungsi. Secara keseluruhan, 3,3 juta jiwa terdampak di 50 kabupaten. Angka ini bukan sekadar statistik. Mereka adalah wajah-wajah yang kehilangan rumah, tanah, dan masa depan. Namun, ketika hujan mulai reda dan banjir mulai surut, masalah lain muncul: kelangkaan bahan makanan, energi, dan kebutuhan pokok lainnya. Hampir semua kota/kabupaten… - [Elite Papua dan Sikapnya pada Transmigrasi](https://merdika.id/elite-papua-dan-sikapnya-pada-transmigrasi/): Program transmigrasi, sebuah kebijakan berusia seabad yang dirancang untuk meratakan populasi dan “membangun” wilayah, telah meninggalkan dampak yang mendalam dan kontroversial di Tanah Papua. Lebih dari sekadar program demografis, transmigrasi juga menjadi titik sentral ketegangan antara kebijakan pembangunan nasional dan aspirasi masyarakat asli. Dengan menganalisis pernyataan dan sikap para pejabat Papua dari era kolonial hingga proyeksi 2025, saya berusaha mengungkap sebuah transformasi sikap yang dramatis: dari kerjasama dan dukungan di masa lalu menjadi penolakan tegas yang diatur dalam hukum daerah―sebuah cerminan dari perjuangan abadi untuk mempertahankan otonomi, hak atas tanah, dan identitas budaya. Warisan kolonial dan integrasi awal Sejarah transmigrasi… - [Banjir dan Longsor Terjang Sumatera: Krisis Ekologi dan Minimnya Mitigasi](https://merdika.id/banjir-dan-longsor-terjang-sumatera-krisis-ekologi-dan-minimnya-mitigasi/): Hujan deras tak henti sejak 24 November mengguncang Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. BPBD Sumatera Utara mencatat 13 kabupaten/kota terdampak, dari Langkat hingga Deli Serdang, dengan total 48 orang meninggal dan 88 orang hilang. Titik terparah adalah Sibolga, Tapanuli Tengah, Tananuli Selatan, dan Tapanuli Utara. Di Aceh, berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) pada Kamis (27/11), banjir dan longsor menyebabkan 30 korban jiwa dan puluhan orang masih hilang. Daerah utama yang terdampak adalah Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, dan Aceh Tenggara. Di Sumatera Barat, korban sudah mencapai 21 orang dan puluhan orang masih hilang. Daerah paling terdampak… - [QRIS dan Perlunya Dukungan terhadap Inovasi Anak Bangsa](https://merdika.id/qris-dan-perlunya-dukungan-terhadap-inovasi-anak-bangsa/): Di panggung internasional, sorotan kamera menangkap senyum Presiden RI ke-7 Joko Widodo dan anaknya yang kini menjadi Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka. Mereka kompak mengangkat satu kata yang kini menjadi ikon ekonomi digital Indonesia: QRIS. Dalam forum global, keduanya menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar konsumen teknologi, melainkan pencipta. Dalam pidatonya di Bloomberg New Economy Forum di Singapura, 21 November 2025, Jokowi mengatakan: “QRIS adalah bukti kuat bahwa Indonesia berhasil membangun fondasi ekonomi digital yang merata dan inklusif”. Sehari kemudian, di KTT G20 Johannesburg, Gibran menambahkan: “QRIS menunjukkan bahwa sistem pembayaran kita tidak hanya modern, tetapi juga mampu menjangkau rakyat kecil… - [16 Hari untuk Keadilan: Tubuh Perempuan Bukan Arena Penindasan](https://merdika.id/16-hari-untuk-keadilantubuh-perempuan-bukan-arena-penindasan/): Pada 25 November 1960, tiga perempuan berjalan menyusuri jalanan pedalaman Dominika dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Patria, Minerva, dan María Teresa Mirabal baru saja pulang usai menjenguk suami mereka di penjara. Tak ada yang menyangka, perjalanan itu menjadi garis akhir hidup mereka. Di tengah jalan, kendaraan mereka dicegat. Aparat rezim Rafael Trujillo menunggu. Pembunuhan dilakukan dengan brutal. Tubuh mereka diperlakukan seolah tak bernilai. Luka-luka disamarkan. Tragedi itu dikonstruksi sebagai kecelakaan biasa. Namun kebenaran, seperti darah, selalu menemukan jalannya sendiri untuk terlihat. Tiga bersaudari ini dikenal sebagai Las Mariposas, kupu-kupu yang memilih melawan ketika banyak orang memilih diam. Kematian… - [Saatnya Memerdekakan Guru](https://merdika.id/saatnya-memerdekakan-guru/): Di Desa Jampang Tengah, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, seorang guru honorer bernama Empan Supandi harus menempuh perjalanan 12 kilometer saban hari menuju MTs Thoriqul Hidayah. Di depan kelas, guru berusia 51 tahun itu berdiri menyulut cahaya pengetahuan bagi anak-anak yang haus belajar. Namun, pengabdian itu hanya dihargai Rp 200 ribu per bulan, nilai yang bahkan tidak sampai separuh dari garis kemiskinan yang ditetapkan BPS. Kisah Empan Supandi bukanlah pengecualian. Ia adalah satu fragmen dari mozaik getir 700 ribu guru honorer di Indonesia. Data Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) pada Mei 2024 menunjukkan 74,3 persen guru honorer digaji… - [Malam Bersejarah Palestina di Bilbao](https://merdika.id/malam-bersejarah-palestina-di-bilbao/): Di bawah langit Basque yang dingin, Sabtu 15 November 2025, Bilbao menjelma menjadi panggung solidaritas. Ribuan orang berbaris di jalan-jalan kota, membawa bendera Palestina dan Basque, menyatukan dua sejarah perjuangan dalam satu slogan: Freedom for Palestine. Malam itu, sepak bola bukan sekadar permainan. Ia menjadi bahasa universal yang menyuarakan keadilan, menghidupkan harapan, dan menyalakan bara kemanusiaan di jantung Eropa. Sejak sore, pusat kota Bilbao dipenuhi lautan manusia. Mereka berarak menuju Stadion San Mamés, menyanyikan yel-yel, mengibarkan spanduk bertuliskan “Stop Genocide” dan “Free Palestine”. Demonstrasi itu bukan sekadar ritual protes, melainkan pernyataan moral: Gaza tidak jauh, Palestina hadir di sini, di… - [Nasionalisme dalam Secangkir Kopi](https://merdika.id/nasionalisme-dalam-secangkir-kopi/): Di sebuah pagi yang lembap di lereng Gayo, aroma kopi yang baru dipetik menyeruak dari karung-karung goni. Biji-biji hijau itu, hasil kerja tangan petani yang sabar, akan menempuh perjalanan panjang: dari desa terpencil menuju pasar global. Sejarah kopi Indonesia memang berawal dari persilangan nasib kolonial. Pada abad ke-17, Belanda membawa bibit kopi Arabika dari Yaman ke Batavia. Dari sana, kopi menyebar ke Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga Bali. Sejak itu, kopi menjadi bagian dari denyut ekonomi dan budaya Nusantara. Dari jumlah luas areal 1,2 juta hektare, Indonesia memiliki 72 persen kebun kopi Robusta, 27 persen Arabika, dan 1 persen Liberika (Dirjen… - [Minat Baca Gen Z dan Harapan Indonesia Maju](https://merdika.id/minat-baca-gen-z-dan-harapan-indonesia-maju/): Di tengah riuh dunia digital, ketika layar gawai seolah menjadi jendela utama kehidupan, ada kabar baik yang datang dari ruang sunyi: minat baca orang Indonesia meningkat, dan penggeraknya adalah generasi Z. Mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, tumbuh bersama internet, media sosial, dan banjir konten visual, justru menemukan kembali pesona kata-kata. Gen Z: Dari Booktok ke perpustakaan Fenomena ini tampak jelas di ruang maya. Booktok, Bookgram, hingga Book Review menjelma tren viral. Video singkat yang membicarakan buku, dengan bahasa lugas dan kreatif, menyebar cepat di TikTok dan Instagram. Buku kembali hadir dalam percakapan publik, bukan sekadar benda usang di… - [Orang Kiri di Balik Penemuan Total Football](https://merdika.id/orang-kiri-di-balik-penemuan-total-football/): Di balik mitologi sepak bola modern, ada sosok yang jarang disebut namun jejaknya terasa hingga kini: Gusztáv Sebes, pelatih Hungaria yang melahirkan tim legendaris Magical Magyars. Dialah arsitek, yang dengan tangan organisator buruh dan pikiran ideolog kiri, merancang sebuah revolusi taktik yang kelak dikenal dunia sebagai total football. Anak tukang sepatu, menteri olahraga Sebes lahir di Budapest pada 22 Januari 1906, sebagai putra seorang tukang sepatu. Masa mudanya dihabiskan sebagai aktivis serikat buruh, sebuah latar yang kelak membentuk pandangan politiknya. Di sela-sela aktivitasnya, ia juga bermain bola. Ia pernah bermain di Vasas SC. Saat bekerja sebagai montir di pabrik Renault… - [Ibu dan Bayinya Meninggal Ditolak 4 RS, Tragedi Pilu di Tanah Kaya Papua](https://merdika.id/ibu-dan-bayinya-meninggal-ditolak-4-rs-tragedi-pilu-di-tanah-kaya-papua/): Di tanah kaya emas, tembaga, gas alam, minyak bumi, dan keanekaragaman hayati yang tersimpan di dalam hutannya, seorang ibu muda bernama Irene Sokoy meregang nyawa bersama bayi yang dikandungnya. Tragedi ini bukan sekadar kisah duka keluarga, melainkan potret telanjang tentang bobroknya layanan kesehatan di Papua, yang kontras dengan limpahan sumber daya alam yang terus digali tanpa henti. Kronologi duka di tanah kaya Pada suatu malam yang penuh kepanikan, keluarga Irene, yang tinggal di Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, bergegas mencari pertolongan medis. Sang ibu hamil merasakan kontraksi hebat, tanda bahwa hidup dan mati sedang bertarung di tubuhnya. Dari… - [Orde Baru Memanipulasi Pemilu 1971](https://merdika.id/orde-baru-memanipulasi-pemilu-1971/): Setelah pemilu 1955 dan pemberlakuan Demokrasi Terpimpin, Indonesia tidak lagi menyelenggarakan pemilu secara reguler. Baru pada 1971, setelah lima tahun Orde Baru mengonsolidasikan kekuasaan pasca menggulingkan pemerintahan Sukarno, Indonesia kembali menyelenggarakan pemilu. Ini adalah pemilu kedua dalam sejarah Indonesia dan menjadi momentum konsolidasi politik rezim Orde Baru lewat jalan pseudo-democracy. Berdasarkan Ketetapan MPRS Nomor XI Tahun 1966, pemilu seharusnya digelar selambat-lambatnya pada 5 Juli 1968. Namun, karena situasi politik dan konsolidasi politik rezim Orde Baru masih berjalan, pemilu sesuai jadwal ditunda. Akhirnya, pada Sidang MPRS 1968, keluar ketetapan MPRS Nomor XLII Tahun 1968 yang menetapkan jadwal baru pemilu paling lambat… - [DPR dan Jebakan Partisipasi Tokenisme](https://merdika.id/dpr-dan-jebakan-partisipasi-tokenisme/): Ketukan palu sidang paripurna DPR RI terdengar keras di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa, 18 November 2025 lalu. Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) 2025 resmi disahkan. Tepuk tangan terdengar meriah karena tak satu pun fraksi yang menolak. Namun, di luar gedung DPR, gema protes lebih keras bergema. Di media sosial, beredar daftar hadir rapat Panja RKUHAP sebagai bukti bahwa publik sudah dilibatkan. Nama-nama individu dan organisasi dicantumkan sebagai bukti bahwa penyusunan RKUHAP sudah melalui partisipasi publik. Bahkan ada klaim bahwa seluruh isi RKUHAP merupakan masukan masyarakat sipil. Namun, beberapa organisasi segera membantah. BEM Universitas Diponegoro, misalnya, melayangkan… - [24 Tahun Otsus Tak Selesaikan Persoalan Papua](https://merdika.id/24-tahun-otsus-tak-selesaikan-persoalan-papua/): Otonomi Khusus (Otsus) Papua, yang diberlakukan sejak 2001, lahir dari sebuah paradoks: sebuah kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah kompleks di Papua—mulai dari ketertinggalan ekonomi, ketimpangan sosial, hingga gejolak politik. Namun dalam implementasinya justru memperdalam dan menciptakan kontradiksi baru. Selama 24 tahun, Otsus telah berjalan beriringan dengan aliran dana triliunan rupiah, eskalasi operasi militer, perampasan tanah adat, deforestasi masif, dan peningkatan yang tidak signifikan dalam kesejahteraan masyarakat atau orang asli Papua (OAP). Inti dari kontradiksi tersebut terletak pada ketimpangan mendasar antara janji ekonomi (pembangunan dan kesejahteraan) dengan realitas politik (kontrol, represi, dan impunitas). Kontradiksi ekonomi dan politik Otsus Kontradiksi soal… - [Revolusi MBG di Brasil: Tak Sekadar Kenyang, Tapi Misi Menyehatkan Bangsa](https://merdika.id/revolusi-mbg-di-brasil-tak-sekadar-kenyang-tapi-misi-menyehatkan-bangsa/): Ini tugas logistik raksasa di Brasil: menyiapkan sarapan, makan siang, dan camilan untuk 42 juta siswa setiap hari. Program Makanan Sekolah Nasional (PNAE) di sana bukan sekadar membagikan makanan gratis; namun sebuah revolusi kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang saling terhubung. Di negara Samba ini, makan siang sekolah bukan sekadar pembagian jatah makanan gratis. Ini adalah sebuah gerakan nasional yang melibatkan edukasi di kantin, pelajaran berkebun, pemberdayaan petani kecil, hingga perang melawan obesitas. Mari kita telusuri bagaimana Brasil berhasil mengubah piring makan siswa menjadi alat transformasi sosial yang luar biasa. Evolusi dari “asal makan” menjadi “edukasi gizi” Program ini sebenarnya sudah… - [Dari Salon Lahir Revolusi](https://merdika.id/dari-salon-lahir-revolusi/): Hari ini, kata “salon” identik dengan tempat perawatan kecantikan. Namun, jauh sebelumnya, salon memiliki kisah yang sangat politis dan revolusioner. Bahkan, menjadi episentrum intelektual yang mengubah jalan sejarah Eropa. Pada abad ke-17 dan ke-18 di Prancis, “salon” adalah ruang pertemuan semiformal yang diadakan di rumah-rumah kalangan atas, terutama di Paris. Ini adalah tempat berkumpul, berdiskusi, berdebat, dan merumuskan ide-ide yang kemudian menjadi bahan bakar gerakan politik dan pencerahan. Kelahiran lingkaran sastra Salon diperkirakan muncul pertama kali pada awal tahun 1600-an. Awalnya, ia lebih merupakan lingkaran sastra informal yang diorganisir oleh Marquess de Rambouillet, seorang aristokrat berdarah Prancis-Italia. Salon Rambouillet menjadi… - [Mengapa Vietnam Jadi Primadona Investasi?](https://merdika.id/mengapa-vietnam-jadi-primadona-investasi/): Jika Anda membalik sneakers kesayangan atau mengecek label di smartphone, Anda mungkin akan menemukan tulisan yang kini semakin umum: “Made in Vietnam”. Bukan kebetulan jika negeri Paman Ho ini tiba-tiba ada di mana-mana. Vietnam saat ini bukan lagi sekadar negara tetangga di ASEAN yang kita kenal sebagai negara petani dengan orang bercaping berdesak-desakan di kota. Di mata para pemilik modal dunia, Vietnam dianggap sebagai tempat paling baik untuk menanamkan investasi. Ia adalah “naga baru” yang sedang menggeliat bangun. Lantas, apa sebenarnya rahasia dapur Vietnam hingga membuat investor asing antre menggelar karpet merah uang mereka di sana? Mari kita bedah satu… - [Jejak Hatta di Brussel](https://merdika.id/jejak-hatta-di-brussel/): Musim dingin membekap Brussel, Belgia awal 1927. Ketika gerimis membasahi kota jalanan kota itu pada 10 Februari 1927, 157 orang dari 37 negara berkumpul di gedung Palais d’Egmont. Nama gedung itu diambil dari nama Pangeran Egmont, bangsawan yang memimpin Belgia/Belanda dalam mengusir penjajahan Spanyol pada 1568. Dari ratusan orang itu, yang sebagian besar dari Asia dan Afrika, tampak wajah anak-anak muda dari Hindia Belanda. Salah satunya, Mohammad Hatta, anak muda berusia 24 tahun yang memimpin organisasi mahasiswa di perantauan, Perhimpoenan Indonesia (PI). Hari itu, Brussel menjadi tuan rumah pertemuan Kongres Liga Melawan Imperialisme dan Penindasan Kolonial (League against Imperialism and… - [Gerakan One Piece: Diciptakan Kaum Miskin, Dibajak Kaum Kaya dan CIA di Meksiko](https://merdika.id/gerakan-one-piece-diciptakan-kaum-miskin-dibajak-kaum-kaya-dan-cia-di-meksiko/): Di tengah hiruk pikuk gerakan protes generasi Z di berbagai negara yang belum mereda, ada pemandangan aneh yang muncul dari sebuah aksi unjuk rasa sayap kanan di Meksiko. Saat sekitar seribu orang berbaris di pusat Kota Puebla, yang meneriakkan “ganyang komunisme!” dan menuntut “tidak ada lagi negara narkoba,” mereka mengibarkan bendera bajak laut dari anime populer, One Piece. Awalnya, bendera bajak laut topi jerami (simbol dalam One Piece) dikenal sebagai lambang perlawanan akar rumput terhadap kaum elite, korupsi, dan ketidaksetaraan. Namun, di Meksiko, gerakan ini terasa janggal. Meskipun digembar-gemborkan sebagai protes gen Z, faktanya sebagian besar peserta adalah orang tua… - [Cara Kerala Keluar dari Kemiskinan Ekstrem](https://merdika.id/cara-kerala-keluar-dari-kemiskinan-ekstrem/): India, negeri berpenduduk sekitar 1,45 miliar penduduk dunia dan terluas ke-7 dunia, masih berjibaku dengan persoalan kemiskinan ekstrem dan ketimpangan. Di media sosial, kemiskinan itu kerap hadir dalam bentuk street food yang jorok, sampai muncul ejekan ”prindavan”. Namun, di balik stereotipe negatif itu, ada negara bagian di India yang mengundang decak kagum. Namanya Kerala. Negara bagian kecil di barat daya India ini, di bawah kepemimpinan Front Demokratik Kiri (LDF) dan Partai Komunis India (Marxis/CPIM), menjadi negara bagian pertama yang bebas dari kemiskinan ekstrem. Strategi Micro-Level Planning Pada 1 November 2025, Ketua Menteri Kerala (setara gubernur di Indonesia), Pinarayi Vijayan, mengumumkan… - [Tamasya Penembak Jitu, Kisah Kekejian Orang Kaya di Sarajevo](https://merdika.id/tamasya-penembak-jitu-kisah-kekejian-orang-kaya-di-sarajevo/): Setelah berakhirnya Perang Dunia II, kemanusiaan bangkit dari tidur panjangnya, mengusap-usap mata, lalu pelan-pelan membuka tirai jendela, menatap langit cerah. Dalam benaknya, hari-hari yang gelap, penuh peperangan dan kejahatan kemanusiaan, sudah berlalu. Ternyata ia salah. Di Sarajevo, kota indah paling multikultural di Eropa, berubah menjadi panggung kejahatan kemanusiaan pada 1990-an. Bukan saja karena kota itu dikepung oleh tentara Serbia yang dipimpin Radovan Karadžić, tetapi juga karena adanya bisnis paling menjijikkan dalam sejarah umat manusia: tamasya penembak jitu (sniper tourism). Sedikit konteks Setelah ditinggal oleh Joseph Broz Tito, Yugoslavia terperangkap dalam perpecahan berbalut nasionalisme etnik. Pada awal Maret 1992, Republik Bosnia… - [Dari Glorifikasi ke Dekonstruksi: Taiwan Menata Ulang Narasi Chiang Kai-shek](https://merdika.id/dari-glorifikasi-ke-dekonstruksi-taiwan-menata-ulang-narasi-chiang-kai-shek/): Di taman-taman kota, di halaman sekolah, bahkan di bandara, patung Chiang Kai-shek dulu berdiri tegak, seolah memandang masa depan yang ia klaim telah dibentuknya. Tapi kini, satu per satu patung itu diturunkan. Bukan karena lupa, tapi justru karena ingat. Karena Taiwan hari ini memilih untuk mengingat dengan jujur, bukan dengan glorifikasi. Chiang Kai-shek adalah pemimpin Partai Nasionalis (Kuomintang/KMT) yang melarikan diri ke Taiwan setelah kalah dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang dipimpin duet Mao Zedong dan Zhou Enlai, dalam perang saudara Tiongkok. Dia, yang kemudian disebut sebagai Bapak Bangsa, memerintah pulau itu dengan tangan besi sejak 1949 hingga wafatnya pada… - [Roestam Effendi Berseru ”Indonesia Merdeka” di Parlemen Belanda](https://merdika.id/roestam-effendi-berseru-indonesia-merdeka-di-parlemen-belanda/): Bagi Howard Zinn, pahlawan tak mesti harus tercatat dalam sejarah. Begitu pula dengan pahlawan yang satu ini: Roestam Effendi, seorang figur yang berdiri di persimpangan ideologi dan sejarah yang kompleks. Ironisnya, di mata rekan seperjuangan, Roestam dicap berbeda. Bung Hatta menyebutnya sekadar pesuruh Communistische Partij van Nederland (CPN). Di sisi lain, Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah menganggap Roestam sebagai pengkhianat. Namun, bagi pengikut Murba, Roestam adalah guru sekaligus pejuang yang dihormati. Terlepas dari perbedaan politik yang tajam di masa itu, kontribusi Roestam dalam perjuangan kemerdekaan tak bisa diremehkan. Ketika menjadi anggota parlemen di negeri Belanda, ia lantang menyuarakan “Indonesia merdeka”… - [Bung Hatta dan Mental Pejabat Republik](https://merdika.id/bung-hatta-dan-mental-pejabat-republik/): Ada kisah-kisah yang melampaui waktu, yang bukan sekadar catatan sejarah, namum bisa menjadi cermin untuk menimba keteledanan. Kisah Mohammad Hatta, sang proklamator dan wakil presiden pertama Indonesia, adalah salah satunya. Ia mewariskan prinsip politik dan etika pejabat yang baik, dipagari dengan kejujuran dan integritas kuat. Beberapa kisah keteladanan Pada awal Maret 1975, Bung Hatta menerima sepucuk surat dari putrinya, Gemala Rabi’ah Hatta, yang kala itu sedang menempuh studi di Australia dan bekerja paruh waktu di Konsulat RI di Sydney. Amplop yang membungkus surat pribadi itu, yang diambil Gemala karena kehabisan amplop, memuat logo resmi Konsulat Republik Indonesia. Bagi kebanyakan orang,… - [Cara Korsel Mengadili Kejahatan Masa Lalu](https://merdika.id/cara-korsel-mengadili-kejahatan-masa-lalu/): Korea Selatan (Korsel), seperti Indonesia, pernah terjerembap dalam masa kelam kediktatoran. Namun, berbeda dengan Indonesia, Korsel punya cara untuk mengadili kejahatan di masa lalu sehingga bisa menatap masa depan. Banyak yang bilang, kita harus berdamai dengan masa lalu. Namun, bagaimana bisa berdamai dengan masa lalu jika kita masih menyimpan “memoria passionis” atau ”ingatan tentang penderitaan dan penindasan”. Paul Ricœur, penulis Memory, History, Forgetting, punya pesan yang menarik. Manusia memang tak boleh terlalu terjebak dalam trauma masa lalu. Karena itu, mereka harus berdamai dengan masa lalu. Namun, sebelum berdamai dengan masa lalu (forgetting), ada dua hal yang harus mendahuluinya: bagaimana ingatan… - [Soeharto dan Kehadiran Freeport di Papua](https://merdika.id/soeharto-dan-kehadiran-freeport-di-papua/): Di antara kabut sejarah yang menyelimuti peristiwa 1965 yang menandai kudeta politik terhadap Sukarno dan naiknya rezim Orde Baru, ada satu jejak yang jarang dibicarakan dengan cukup lantang: kedatangan Freeport ke Papua. Ini bukan sekadar urusan tambang, ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah rezim membuka pintu bagi modal asing, bahkan sebelum debu kudeta benar-benar mengendap. Di balik jargon stabilitas dan pembangunan, tersimpan transaksi senyap yang mengubah wajah Indonesia—dan nasib Papua—untuk puluhan tahun ke depan. Kepentingan ekonomi jelang 1965 Seperti diketahui banyak orang, sebelum 1965 haluan politik Indonesia sangat anti-imperialis. Secara ekonomi, Sukarno ingin membangun fondasi ekonomi nasional yang berdiri di… - [Didier Drogba dan Sepak Bola yang Menyatukan Bangsa](https://merdika.id/didier-drogba-dan-sepak-bola-yang-menyatukan-bangsa/): Pantai Gading pernah menjadi mercusuar stabilitas dan harapan di Afrika Barat. Sejak merdeka dari Prancis tahun 1960, negara ini dikenal sebagai tanah damai yang menarik ribuan migran dari Burkina Faso, Mali, Guinea, dan Ghana. Dua dari lima orang di setiap sudut jalan Pantai Gading adalah pendatang. Namun, pada September 2002, segalanya berubah. Kudeta militer yang gagal memicu perang saudara, memecah negara menjadi dua. Selatan yang mayoritas Kristen dipimpin Presiden Laurent Gbagbo, dan utara yang mayoritas muslim dikuasai pemberontak di bawah Soro Guillaume. Dampaknya sangat menghancurkan: lebih dari 4.000 orang tewas, termasuk 1.200 warga sipil. Sekitar 750 ribu orang terpaksa mengungsi… - [Taylor Swift yang Makin Politis](https://merdika.id/taylor-swift-yang-makin-politis/): Di balik gemerlap panggung dan tepuk tangan yang menggema di setiap konsernya, Taylor Swift menyimpan perjalanan politik yang tak kalah dramatis dari lirik-lirik lagunya. Ia bukan hanya penyanyi pop dengan jutaan penggemar, tetapi juga seorang perempuan yang perlahan menemukan transformasi. Ini bukan sekadar strategi citra, melainkan refleksi mendalam tentang tanggung jawab, ketakutan, dan harapan. Taylor Swift bukan sekadar ikon pop. Ia adalah fenomena budaya yang melintasi batas genre, generasi, dan kini ideologi. Di balik citra glamor dan jutaan penjualan album, tersembunyi perjalanan seorang perempuan yang bergulat dengan ketenaran, ketakutan, dan akhirnya menemukan keberanian untuk bersuara dalam lanskap politik Amerika Serikat… - [Api Kebebasan Pinochet dan Soeharto](https://merdika.id/api-kebebasan-pinochet-dan-soeharto/): Pada 11 September 1975, untuk memperingati dua tahun kudetanya yang sukses, Jenderal Augusto Pinochet menyalakan ”Llama de la Libertad” atau ”Api Kebebasan”. Terletak di sebuah tempat yang disebut Altar de la Patria (Altar Tanah Air), tak begitu jauh dari Istana Kepresidenan La Moneda, Api Kebebasan menjadi simbol keberhasilan militer di bawah Pinochet menyelamatkan Chile dari ancaman komunisme. Namun, di balik kisah Api Kebebasan itu, ada kisah kelam yang menghantui Chile selama hampir dua dekade. Api itu bukan hanya tentang mimpi yang terenggut, tetapi juga tentang sebuah masa kelam yang berdarah-darah. Semuanya bermula pada 1970. Saat itu, Salvador Allende, seorang dokter… - [Otonomi Khusus Papua Bukan Jalan Emansipasi Masyarakat Adat](https://merdika.id/otonomi-khusus-papua-bukan-jalan-emansipasi-masyarakat-adat/): Kabupaten Fakfak, yang terletak di ujung Semenanjung Onin, Papua Barat, adalah sebuah mikrokosmos yang menggambarkan kontradiksi mendasar dalam perjalanan bangsa Indonesia, khususnya dalam konteks hubungan antara negara dan masyarakat adat di Papua. Fenomena di Fakfak bukanlah kegagalan implementasi kebijakan yang dapat diperbaiki dengan pendekatan teknokratis, melainkan manifestasi logika intrinsik dari sistem kapitalis yang beroperasi di bawah payung negara-bangsa Indonesia. Dengan menggunakan lensa ekonomi dan politik, kita mengungkap bagaimana dan apa yang terjadi di Fakfak—konflik tanah, alienasi masyarakat, dan krisis identitas—yang juga menjadi bukti empiris dari kegagalan total Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Otsus, yang dipromosikan sebagai paket kebijakan untuk menahan tuntutan… - [Warisan Pembangunanisme dan Utang Najis Soeharto](https://merdika.id/warisan-pembangunanisme-dan-utang-najis-soeharto/): Ada sebuah frasa yang sering menggema, menjadi momok yang menghantui ruang publik dan media sosial: “Piye, penak zamanku, toh?” Slogan yang seolah merangkum Orde Baru (Orba) sebagai era yang damai, murah, dan menyenangkan. Sebuah propaganda nostalgia yang berusaha mengubur ingatan kolektif bangsa akan sisi gelap dari rezim yang berkuasa selama 32 tahun. Memang, Jenderal Soeharto dianugerahi gelar Bapak Pembangunan. Namun, kisah pembangunan itu tidaklah seindah narasi yang diulang-ulang. Di balik tumpukan proyek raksasa dan angka-angka statistik, terdapat warisan kelam yang hingga kini masih harus kita pikul, salah satunya adalah warisan utang luar negeri. Warisan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan… - [AI Membuatnya Frustrasi, Tejo Ungkapkan Lewat Lagu Ini](https://merdika.id/ai-membuatnya-frustrasi-tejo-ungkapkan-lewat-lagu-ini/): Apa yang berharga dari lagukuyang kutulis memakan waktuberbulan-bulanlalu Suno datang sederhanakan semuahu.. huu.. huu.. nasib Bait di atas adalah penggalan lirik dari single berjudul “Apa yang Berharga dari Laguku” yang ditulis Tejo Priyono. Lagu ini dirilis 7 November 2025 di semua platform musik digital dan YouTube musik. Tejo sendiri telah menghasilkan tiga album: Zaman Ganti Rupa (2024), Semper Kemayoran (2024), Anak-Anak SuPer (2025). Apa yang Berharga dari Laguku seperti ungkapan gamang ketika seorang penulis lagu, yang terbiasa memproduksi sebuah karya dengan cara konvensional, melalui proses yang lama, mengutak-atik melodi dan akord, bongkar pasang lirik, semua dikerjakan secara manual, lalu tiba-tiba… - [Operasi Senyap Israel di YouTube](https://merdika.id/operasi-senyap-israel-di-youtube/): Platform digital kini menjelma menjadi senjata baru di bawah slogan: rekam dan sebarkan. Dengan platform digital, seperti platform video, peristiwa-peristiwa yang tak mendapat tempat di media arus utama (mainstream), atau peristiwa yang sengaja disensor, bisa tersebar luas. Begitu juga dengan kejadian di Palestina. Berbagai tindak kejahatan kemanusiaan, seperti penyiksaan, pembunuhan, hingga serangan militer yang menarget sipil, bisa dikabarkan ke berbagai belahan dunia lewat platform video. Salah satunya via platform video tersebesar di dunia, YouTube. Namun, belakangan terungkap bahwa platform video milik Google ini dituding telah bertindak sebagai perpanjangan tangan agenda politik Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk membungkam suara-suara Palestina.… - [Zohran Mamdani Cetak Sejarah di Pilwakot New York](https://merdika.id/zohran-mamdani-cetak-sejarah-di-pilwakot-new-york/): Pemilihan Walikota New York mengukir sejarah baru. Zohran Mamdani, anak muda berusia 34 tahun, seorang demokrat sosialis, keturunan imigran beragama Islam, berhasil menjadi walikota di New York. Dalam pemilihan walikota New York, yang digelar pada Selasa, 4 November 2025, Zohran mendapat lebih dari 1 juta suara atau sekitar 50,4 persen. Sementara pesaing terberatnya, Andrew Cuomo, hanya mendapat suara sekitar 41,6 persen. Tempat ketiga ditempati kandidat Republik, Curtis Sliwa, yang mendapat suara 7,1 persen. Kemenangan Zohran menakjubkan. Dia berhasil mengalahkan Andrew Cuomo, politisi senior yang disokong kelompok mapan, dengan selisih yang sangat jauh. Tidak hanya itu, kemenangan Zohran juga merata hampir… - [Ujian Nasionalisme di Tapal Batas](https://merdika.id/ujian-nasionalisme-di-tapal-batas/): “Kami ini NKRI, tapi perut Malaysia.” Kalimat itu bukan metafora. Kalimat itu diucapkan langsung oleh Zainal Arifin Paliwang, Gubernur Kalimantan Utara, dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI pada 28 April 2025. Ia menggambarkan realitas pahit warga perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Secara administratif dan politik, mereka adalah warga negara Indonesia (WNI). Namun, demi urusan perut dan kebutuhan dasar lainnya, mulai dari sembako, pendidikan, hingga layanan publik, mereka bergantung pada Malaysia. Di desa-desa seperti Entikong, Nekan, Badau, dan Sanatab, nasionalisme bukan sekadar soal bendera dan lagu kebangsaan. Ia diuji dalam bentuk paling konkret: harga beras, kualitas jalan, akses pendidikan, dan… - [Otonomi Khusus Gagal, Papua Butuh Paradigma Baru](https://merdika.id/otonomi-khusus-gagal-papua-butuh-paradigma-baru/): Tanah Papua, mutiara timur Indonesia, kini berlumuran air mata dan darah, bukan karena kekayaan alamnya yang melimpah, melainkan karena tragedi kemanusiaan yang tak berkesudahan. Data terbaru menunjukkan gelombang pengungsian internal (IDPs) telah mencapai skala yang mengkhawatirkan. Ini membuktikan kegagalan sistemik negara dalam melindungi warganya sendiri, sementara perhatian elite politik Jakarta justru terlihat melenceng jauh ke isu-isu di luar kedaulatan NKRI. Menurut laporan terbaru, lebih dari 60 ribu orang asli Papua (OAP) dari Intan Jaya dan Puncak terpaksa meninggalkan rumah mereka. Di Nduga, angka ini melonjak drastis, dengan 80.709 OAP masih mengungsi hingga Agustus 2025. Yahukimo mencatat rekor tragis sekitar 100… - [Menteri Amran Gugat Tempo Rp 200 Miliar, AJI: Upaya Bungkam dan Bangkrutkan Media](https://merdika.id/menteri-amran-gugat-tempo-rp-200-miliar-aji-upaya-bungkam-dan-bangkrutkan-media/): Aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama koalisi masyarakat sipil menggelar aksi di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (3/11). Aksi ini merupakan bentuk dukungan terhadap Tempo yang tengah digugat secara perdata oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Selain anggota AJI, aksi ini juga diikuti puluhan jurnalis Tempo, dari reporter muda hingga wartawan senior. Agenda sidang lanjutan tersebut adalah mendengarkan keterangan saksi ahli, Yosep Stanley Adi Prasetyo. Dalam gugatannya, Amran menuntut Tempo membayar ganti rugi lebih dari Rp 200 miliar terkait laporan sampul pemberitaan bertajuk “Poles-poles Beras Busuk.” Laporan itu dianggap merusak citra dan reputasinya, serta nama baik Kementerian Pertanian. Ketua Umum… - [Ramalan Bung Hatta tentang Revolusi Industri](https://merdika.id/ramalan-bung-hatta-tentang-revolusi-industri/): Dunia kini bergetar di gerbang zaman baru: revolusi industri 4.0. Sebuah era yang ditandai gemuruh kecerdasan buatan, tenaga kerja robot, lautan data raksasa, cloud computing, otomatisasi, dan teknologi nanoteknologi. Tak diragukan lagi, gelombang kemajuan ini membawa berkah yang melimpah. Ekonomi menjadi lebih produktif, alur kerja kian efisien, dan manusia terbebas dari pekerjaan berisiko. Lebih penting dari itu, inovasi terus bermekaran, menjadikan hidup kita serba lebih mudah. Revolusi ini membuka lini usaha, lapangan, dan profesi yang sama sekali baru. Ia bukan sekadar mengubah cara kita bekerja, melainkan juga cara hidup, memandang dunia, dan berelasi sosial. Namun, di balik kemilau kemajuan, tersembunyi… - [Ketika Sepak Bola Jadi Alat Revolusi di Aljazair](https://merdika.id/ketika-sepak-bola-jadi-alat-revolusi-di-aljazair/): Pada tahun 1958, di tengah gegap gempita perjuangan kemerdekaan Aljazair yang ingin bebas dari cengkeraman kolonialisme Prancis, revolusi tidak hanya digerakkan oleh tembakan senapan atau pidato-pidato politik. Ia juga dimainkan di atas lapangan hijau, diringkas dalam sihir sebuah operan, disirami dengan lagu kebangsaan, dan dimahkotai dengan sorak-sorai kemenangan yang membakar semangat nasional. Inilah kisah yang jarang terungkap dari sejarah dekolonisasi: kisah Tim Sepak Bola Front Pembebasan Nasional (FLN), sebuah skuad yang lebih dari sekadar tim olahraga. Mereka adalah alat revolusi yang tak menembakkan sebutir peluru dan tak menumpahkan darah setetes pun dalam mewujudkan Aljazair merdeka. Lahirnya Tim Revolusi Saat itu,… - [Dunia Merindukan Musik RATM](https://merdika.id/dunia-merindukan-musik-ratm/): “Aku memikirkan sesuatu yang secara metaforis menggambarkan kemarahan kami terhadap politik Amerika, terhadap sistem kapitalisme yang telah memperbudak dan menciptakan ketidakadilan terhadap rakyat banyak.” Begitu kata Zack de la Rocha, vokalis legendaris grup musik Rage Against The Machine (RATM), tentang asal-usul nama grup musik yang didirikannya. Tahun 1991, di Los Angeles, California, Amerika Serikat, ia dan kawannya, Tom Morello, mendirikan RATM. Boleh dikatakan, Zack de la Rocha dan Tom Morello adalah nyawa utama RATM. Uniknya, kedua anak muda ini tumbuh dari tradisi kiri yang sangat kuat. Mereka bermusik bukan sekadar untuk juru hibur, apalagi untuk keren-kerenan, tetapi untuk mengekspresikan sebuah… - [Yahukimo dan Kutukan Sumber Daya](https://merdika.id/yahukimo-dan-kutukan-sumber-daya/): Kabupaten Yahukimo, yang resmi berdiri pada 25 Oktober 2002, membawa harapan besar akan peningkatan kesejahteraan dan pelayanan publik. Namun, data menunjukkan realitas yang suram. Angka kemiskinan ekstrem sangat tinggi. Pada 2024, angka kemiskinan di Yahukimo mencapai 33,82 persen, jauh di atas rata-rata nasional, dengan 68.320 jiwa hidup di bawah garis kemiskinan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sangat rendah. Untuk diketahui, IPM Yahukimo tercatat 51,97, berada pada kategori “sedang” dan jauh di bawah capaian nasional, mengindikasikan kualitas hidup yang belum signifikan peningkatannya. Selain itu, kabupaten kaya sumber daya alam (SDA) ini mengalami ketergantungan fiskal. Keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dan infrastruktur membuat… - [Cara Bung Hatta Melawan Hegemoni Kolonial](https://merdika.id/cara-bung-hatta-melawan-hegemoni-kolonial/): Mengapa Indonesia bisa dijajah lama oleh kolonialisme Belanda? Banyak yang beranggapan bahwa Nusantara kala itu kalah unggul di bidang teknologi, khususnya teknologi militer, sementara kaum kolonialis telah menguasai pengetahuan modern. Penjelasan tersebut ada benarnya, namun tidak mutlak. Belanda hanyalah negeri kecil di Eropa; luasnya hanya seperempat Pulau Jawa. Sementara itu, luas Indonesia hampir sebanding dengan gabungan tujuh negara Eropa, yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, Belanda, Spanyol, dan Italia. Mengenai hal ini, Bung Hatta menawarkan penjelasan yang berbeda. Menurut salah satu Bapak Bangsa kita ini, kekuasaan kolonial dapat bertahan di Indonesia karena ditopang oleh penguasaan psikologis. Konsep penguasaan psikologis yang dimaksud… - [LMND Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional](https://merdika.id/lmnd-tolak-soeharto-jadi-pahlawan-nasional/): Indonesia paruh kedua 1998: sebuah negeri yang baru saja menggulingkan penguasa yang selama 32 tahun memerintah dengan tangan besi. Orde Baru yang dipimpin Soeharto tumbang, tapi sisa-sisanya masih bergentayangan. Ekonomi hancur, rakyat hidup dalam ketidakpastian, dan aspirasi agar Soeharto diadili tak kunjung direspons. Dalam situasi di mana derap perjuangan masih terasa, sekaligus waspada itulah, berbagai organisasi mahasiswa dan pemuda yang menjadi tulang punggung perlawanan terhadap Orde Baru mulai membangun konsolidasi baru. Dari Jakarta ada KOMRAD dan KBUI, dari Yogyakarta KPRP, dari Surabaya ABRI, dari Malang ada KMM, dari Makassar SMM, dari Surakarta ada DRMS, dari Bandung ada GMIP, dari Lampung… - [Sejarah Imperialisme di Hindia dari Teropong Marxis (2)](https://merdika.id/sejarah-imperialisme-di-hindia-dari-teropong-marxis-2/): Sejarah Hindia tak sekadar merentangkan kisah panjang atas penaklukan wilayah, penguasaan sumber daya, dan eksploitasi terhadap manusianya. Mengulasnya dalam jejak sejarah berdasarkan teropong Marxis, imperialisme yang pernah ditancapkan merupakan tahapan dari kapitalisme yang hingga saat ini makin terlihat kokoh. Seperti diulas dalam bagian pertama, yang menyajikan permulaan praktik imperial lewat VOC; saya juga menghadirkan temuan-temuan lain atas kolonialisme Belanda di Kepulauan Hindia yang diulas pada artikel ini. Dorongan ekonomi-politik dan perluasan teritori di Kepulauan Hindia Selepas VOC mengalami kebangkrutan, dekade 1800-an, Raja Belanda, Lodewijk Napoleon kemudian mengambil-alih utang-piutangnya. Praktis, Kepulauan Hindia kemudian menjadi milik Kerajaan Belanda1. Sekalipun kekuasaannya sempat diinterupsi… - [Perlawanan Generasi Tanpa Harapan Masa Depan](https://merdika.id/perlawanan-generasi-tanpa-harapan-masa-depan/): Demonstrasi yang meledak antara Agustus-September 2025 seolah membuka retakan besar di bawah permukaan negeri ini. Dari Pati hingga Jakarta, dari ojek daring hingga mahasiswa, juga ribuan anak muda turun ke jalan membawa keresahan yang tak lagi bisa ditahan: harga hidup yang mencekik, pekerjaan yang tak kunjung datang, dan ketimpangan ekonomi yang terus dipalingkan negara. Di TikTok dan X (Twitter), video serta utas panjang beredar setiap hari. Caption seperti “Mengapa kita harus turun ke jalan?”, “Mengapa gaji DPR begitu tinggi?”, “Mengapa begitu sulit mencari kerja di Indonesia?” dan tagar #JusticeForAffan, #DemoOjol, #MahasiswaBergerak, hingga #KaburAjaDulu menjadi tanda frustrasi yang berpindah dari telepon… - [Sumpah Baru Perempuan Indonesia](https://merdika.id/sumpah-baru-perempuan-indonesia/): Setiap 28 Oktober, bangsa ini kembali menggaungkan Sumpah Pemuda. Tiga kalimat sederhana yang menyatukan tekad para pemuda 1928 untuk membangun Indonesia yang satu: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Di balik riuhnya peringatan itu, ada satu kisah yang sering tenggelam di ruang sunyi sejarah, yakni peran perempuan muda dalam menyalakan bara kebangsaan. Tanpa perempuan, Sumpah Pemuda bukanlah kisah yang utuh. Di balik rapat-rapat pergerakan, ada tangan perempuan yang menjahit bendera, menulis pamflet, membuka ruang belajar, dan menyembunyikan para pejuang. Nama-nama seperti Maria Walanda Maramis, Rohana Kudus, dan Siti Walidah mungkin tidak disebut dalam teks ikrar Sumpah Pemuda, tetapi mereka menyemai… - [Sejarah Imperialisme di Hindia dari Teropong Marxis (1)](https://merdika.id/sejarah-imperialisme-di-hindia-dari-teropong-marxis-1/): Sebagai warga yang tinggal di pelosok Jawa Tengah, Indonesia, saya sudah menyaksikan globalisasi hadir di depan mata. Para tetangga pergi ke sawah mengendarai beragam sepeda motor asal pabrikan Jepang. Beberapa kawan sebaya juga bekerja di pabrik garmen. Pabrik itu memproduksi pakaian jadi yang nantinya diberi jenama jempolan dunia. Setelah itu, pakaian jadi diekspor ke mancanegara. Sebagai imbal jasa, kawan saya mendapatkan transferan uang senilai upah minimum kabupaten (UMK) lebih sedikit tiap bulannya. Menurut laporan perusahaan tahun 2023, dari dua pabrik di kabupaten yang saya tinggali, perusahaan itu memiliki aset senilai USD 696,8 juta. Nilai penjualannya pada tahun yang sama menyentuh… - [Dampak Perumahan terhadap Kualitas Pendidikan](https://merdika.id/dampak-perumahan-terhadap-kualitas-pendidikan/): Bagaimana kita bisa mengurangi kesenjangan capaian pendidikan di Indonesia? Selama ini, banyak perhatian tertuju pada distribusi anggaran pendidikan di berbagai daerah, pada sifat kurikulum sekolah, dan pada regulasi sekolah swasta atau sekolah berbayar. Namun, belum banyak analisis mengenai peran lingkungan lokal terhadap hasil pendidikan. Secara khusus, perhatian terhadap bagaimana perumahan lokal, seperti jenis dan campuran kepemilikan, perumahan vertikal vs kompleks perumahan tapak, dan sebagainya, dapat mempengaruhi kinerja siswa sekolah masih terbatas. Di Indonesia, kita dapat mengamati fenomena serupa, meskipun melalui mekanisme kebijakan yang berbeda. Misalnya, dampak dari program perumahan rakyat, pengembangan kompleks perumahan baru, atau perubahan tata ruang kota yang… - [Nduga: Paradoks Kekayaan dan Keterpurukan di Jantung Papua Pegunungan](https://merdika.id/nduga-paradoks-kekayaan-dan-keterpurukan-di-jantung-papua-pegunungan/): Kabupaten Nduga, sebuah wilayah yang relatif muda di Provinsi Papua Pegunungan, kini berada di persimpangan krusial antara potensi alam dan budaya yang melimpah dengan realitas pembangunan manusia yang paling memprihatinkan di Indonesia. Wilayah ini menjadi cerminan kompleksitas tantangan pembangunan di Tanah Papua, di mana kekayaan sumber daya berhadapan langsung dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah dan konflik berkepanjangan. Potensi Nduga: Kekayaan alam dan budaya yang belum tergali Terletak di jantung Lembah Baliem dan di kelilingi Pegunungan Jayawijaya, Nduga di berkahi dengan potensi alam yang melimpah. Sektor pertanian dan perkebunan menjadi tulang punggung perekonomian lokal, menghasilkan umbi-umbian, sayuran, kopi, buah merah,… - [Menyalakan Api Sumpah Pemuda](https://merdika.id/menyalakan-api-sumpah-pemuda/): 28 Oktober 1928, 97 tahun lalu, pemuda-pemudi yang sebelumnya terpisah oleh batas organisasi kedaerahan dan kesukuan, bersepakat menanggalkan sekat-sekat itu. Mereka menyatukan imaji kolektif: sebuah janji sakral tentang satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia. Apa yang menyatukan mereka? Bukan kesamaan pulau, suku, atau agama, melainkan kesamaan nasib. Ratusan tahun penindasan kolonialisme telah menempa mereka menjadi satu rasa. Dari sana, lahirlah cita-cita tentang sebuah negeri merdeka, di mana keadilan dan kemakmuran bukan sekadar impian, melainkan realitas. Cita-cita awal itu akhirnya menemukan wujudnya 17 tahun kemudian. Sukarno dan Mohammad Hatta, atas nama bangsa Indonesia, memproklamirkan kelahiran Republik Indonesia. Satu nusa, satu… - [Serakahnomics, Populisme Oligarkis, dan Ilusi Ekonomi Pancasila](https://merdika.id/serakahnomics-populisme-oligarkisdan-ilusi-ekonomi-pancasila/): Presiden Prabowo Subianto memunculkan narasi tentang ekonomi Pancasila dan istilah baru “serakahnomics”. Narasi itu ia cetuskan dalam pidato-pidatonya, seperti pada penutupan Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Surakarta, 20 Juli 2025, juga pada Pidato Kenegaraan Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD, 15 Agustus 2025 lalu. Istilah “serakahnomics” menggambarkan praktik keserakahan ekstrem oleh pelaku usaha atau elite yang memanipulasi pasar demi keuntungan pribadi, seperti penimbunan bahan pokok atau manipulasi harga pangan. Koruptor masuk dalam kategori ini. Prabowo pun menjanjikan akan melakukan penindakan tegas, termasuk penyitaan aset, untuk melindungi rakyat dan mencegah Indonesia menjadi “negara gagal”, seperti yang pernah ia prediksi akan bubar di 2030.… - [Lima Cara Melawan Dominasi Oligarki](https://merdika.id/lima-cara-melawan-dominasi-oligarki/): Pernahkah kita berpikir sejenak, banyak di antara kita sudah berjibaku sedemikian rupa, kadang jungkir balik demi memperbaiki nasib, tetapi hasilnya tetap nihil. Sementara segelintir orang bisa meraih segalanya dengan mudah. Segelintir keluarga punya harta triliunan dan mengendalikan politik Indonesia. Dalam diskusi politik sehari-hari, fenomena itu disebut oligarki. Oligarki adalah relasi kekuasaan yang memungkinkan pemusatan kekayaan dan otoritas serta perlindungan kolektif terhadapnya (Hadiz dan Robison, 2004). Atau dalam sebuah podcast terbaru, Vedi Hadiz menyederhanakan pengertian oligarki sebagai suatu sistem atau relasi kekuasaan terstruktur, yang ditandai oleh aliansi antara pengusaha besar, birokrasi negara, dan politisi untuk menguasai insititusi, sumber daya, dan sumber… - [Kandidat Kiri Menang di Pemilu Presiden Irlandia](https://merdika.id/kandidat-kiri-menang-di-pemilu-presiden-irlandia/): Sejarah baru tercipta dalam politik Irlandia. Seorang kandidat berpaham kiri, yang didukung oleh koalisi partai kecil dan gerakan sosial, berhasil memenangkan pemilu presiden Irlandia. Catherine Connolly, aktivis kiri berusia 68 tahun yang maju sebagai calon independen, berhasil menang telak dalam pemilu presiden Irlandia pada Jumat, 24 Oktober 2025. Ia berhasil meraih suara mayoritas dengan 63,4 persen. Saingannya, Heather Humphreys, yang diusung oleh partai terbesar ketiga di Irlandia, Fine Gael, hanya mendapat 29,5 persen suara. Sementara posisi ketiga ditempati kandidat Republikan konservatif (Fianna Fáil), Jim Gavin, yang mendapat 7,2 persen. Jim Gavin mengundurkan diri dari pencalonan jelang pemilihan. Banyak media yang… - [Soeharto dan Bahaya Lupa Sejarah](https://merdika.id/soeharto-dan-bahaya-lupa-sejarah/): Indonesia kembali dihadapkan pada perdebatan sensitif: apakah mantan Presiden Soeharto layak dianugerahi gelar pahlawan nasional? Isu yang selalu muncul menjelang peringatan Hari Pahlawan itu, menimbulkan gelombang penolakan dari masyarakat sipil, akademisi, hingga korban pelanggaran HAM. Dalam konteks sejarah dan moral, langkah untuk memberikan gelar tersebut bukan hanya tidak pantas, tetapi juga berpotensi mengkhianati memori kolektif bangsa yang pernah ditindas oleh kekuasaan Orde Baru. Soeharto memang tidak bisa dihapus dari sejarah Indonesia. Ia memimpin negara ini selama 32 tahun, mengubah wajah ekonomi, dan membangun infrastruktur dari Sabang sampai Merauke. Tetapi, sejarah bukanlah ruang untuk glorifikasi, melainkan refleksi. Di balik narasi “stabilitas”… - [Samba sebagai Identitas dan Alat Perlawanan](https://merdika.id/samba-sebagai-identitas-dan-alat-perlawanan/): Siapa tidak kenal samba? Tarian dan genre musik ini telah menjadi identitas nasional Brasil yang mendunia, bahkan menjadi kata kunci untuk mengenal negara terbesar di Amerika Selatan itu. Ia adalah denyut nadi yang menggerakkan Karnaval Rio de Janeiro, sebuah perayaan budaya akbar yang tak pernah lepas dari parade samba sejak era 1930-an. Banyak peneliti menyebut samba berasal dari kata Afrika, semba, sebuah istilah dalam bahasa Kimbundu Angola. Kata ini merujuk pada gerak koreografi dua orang yang menyentuh perut sebagai undangan menari—sebuah warisan yang dibawa ke Brasil oleh orang-orang Afrika yang menjadi korban perbudakan. Namun, samba jauh lebih dalam dari sekadar… - [Ketika Gen Z Peru Berhasil Menjatuhkan Presiden Otoriter](https://merdika.id/ketika-gen-z-peru-berhasil-menjatuhkan-presiden-otoriter/): Terinspirasi gelombang protes di berbagai belahan dunia, dari Indonesia, Nepal, Madagaskar, hingga Maroko, para pemuda Peru mengubah kemarahan di media sosial menjadi mobilisasi massa melawan korupsi dan represi. Puluhan demonstran melompat kegirangan di luar gedung Kongres Republik Peru (Parlemen Peru). Hari itu, 10 Oktober 2026, Presiden Dina Boluarte berhasil dilengserkan dari jabatannya oleh anggota parlemen yang selama hampir tiga tahun menjadi sekutu sekaligus pelindungnya. Sehari sebelumnya, krisis sosial dan politik Peru yang berkepanjangan mencapai titik didihnya. Calon presiden Phillip Butters, yang berasal dari partai kanan Avanza País, dilempari batu saat kunjungan provokatif ke sebuah kota di bagian selatan negeri itu… - [Selamat Jalan Jill Hickson, Filmmaker di Balik Film Perlawanan Rezim Soeharto](https://merdika.id/selamat-jalan-jill-hickson-filmmaker-di-balik-film-perlawanan-rezim-soeharto/): Aktivis sosialis dan filmmaker, Jill Hickson meninggal dunia pada 15 Oktober 2025. Ia berpulang dalam usia 70 tahun, setelah berjuang melawan kondisi kesehatannya yang terus memburuk selama berbulan-bulan. Mengutip artikel Peter Boyle dan Pip Hinman yang dipublikasikan greenleft.org.au, kesehatan Jill menurun secara drastis setelah film terakhir yang dia buat bersama pasangannya, John Reynolds, berjudul “Palestinians Don’t Need Sidewalks,” selesai diproduksi. Namun, meskipun terbaring di tempat tidur, dia menyadari betapa berharganya dokumenter ini bagi gerakan solidaritas Palestina. Terlebih pemutaran film tersebut mendapatkan banyak apresiasi penonton dan membuka mata banyak orang tentang genosida Israel di Palestina. Jill, lanjut Peter Boyle dan Pip… - [Orang-orang Baik di Kekuasaan Jahat](https://merdika.id/orang-orang-baik-di-kekuasaan-jahat/): Dalam kisah Mahabharata, ada tiga nama yang selalu disebut dengan penuh hormat: Karna, Pandhita Drona, dan Maharesi Bisma. Mereka bukan tokoh jahat. Mereka berilmu tinggi, berbudi luhur, dan sering kali menjadi sumber kebijaksanaan. Namun ketiganya memilih berdiri di kubu Kurawa, membela Duryudana, penguasa yang menolak menyerahkan tahta kepada Pandawa yang lebih berhak. Kisah itu menimbulkan pertanyaan yang tidak pernah usang: mengapa orang-orang baik bisa bekerja untuk kekuasaan jahat? Jawabannya tidak sederhana. Kadang karena kesetiaan, karena hutang budi, karena rasa takut kehilangan posisi dan lain-lain. Tapi apa pun alasannya, sejarah selalu menunjukkan pola yang sama, kejahatan besar tidak pernah berjalan sendirian.… - [Maba Sangaji Penjaga Bumi: Menolak Vonis Pengadilan Negeri Soasio](https://merdika.id/maba-sangaji-penjaga-bumi-menolak-vonis-pengadilan-negeri-soasio/): Hakim Pengadilan Negeri Soasio, Maluku Utara memvonis bersalah 11 warga Maba Sangaji yang sedang berjuang mempertahankan hutan adatnya, 17 Oktober 2025. Mereka dihukum penjara lima bulan delapan hari. Para penjaga bumi itu didakwa melanggar Pasal 162 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yakni aktivitas merintangi kegiatan pertambangan berizin. Kriminalisasi terhadap warga Maba Sangaji adalah cermin kejahatan ekologis yang dibungkus dalam hukum positif. Mereka bukan penjahat, melainkan penjaga hutan adat dan sumber kehidupan. Tindakan hukum terhadap mereka adalah bentuk pembalasan atas keberanian masyarakat adat menolak perusakan lingkungan oleh korporasi tambang. Sejak 2017, PT Position, perusahaan tambang nikel… - [Pembakaran Mahkota Cenderawasih Hancurkan Identitas Adat Papua](https://merdika.id/pembakaran-mahkota-cenderawasih-hancurkan-identitas-adat-papua/): Peristiwa pembakaran mahkota Cenderawasih oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, tidak bisa dipandang sebagai tindakan penegakan hukum konservasi semata. Sebaliknya, insiden ini merupakan manifestasi nyata dari imperialisme budaya yang dijalankan oleh negara melalui aparatnya, di mana nilai-nilai dan regulasi sentralistik terlihat dipaksakan, mengabaikan, dan menghancurkan warisan spiritual serta identitas masyarakat adat Papua. Kecaman keras muncul menyusul beredarnya video pembakaran mahkota adat yang terbuat dari burung Cenderawasih oleh BBKSDA Papua. Masyarakat adat dari tujuh wilayah merasa terhina dan mengutuk tindakan tersebut. Pembakaran ini dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap norma budaya dan adat istiadat orang asli Papua. Peristiwa pembakaran… - [SPAI Tolak Pengemudi Ojol Jadi UMKM](https://merdika.id/spai-tolak-pengemudi-ojol-jadi-umkm/): Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) menolak rencana Menteri UMKM Maman Abdurrahman untuk memasukkan pengemudi ojek online (ojol) dalam kategori UMKM. Serikat yang menaungi para pekerja platform ini menegaskan usulan tersebut tidak ada dasar hukumnya. Karena itu mereka dengan tegas menolaknya. Ketua SPAI, Lily Pujiati menerangkan, peraturan soal pengemudi ojol yang memasukkan ke dalam hubungan kerja telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, pasal 1 ayat 15 yang menyatakan hubungan kerja dengan meliputi unsur pekerjaan, upah dan perintah. “Ketiga unsur ini nyata adanya di dalam aplikasi pengemudi dan semua dikendalikan oleh perusahaan platform. Dalam aplikasi tersebut platform menetapkan unsur pekerjaan… - [Derita Rakyat Kecil dan Absennya Partai Kiri](https://merdika.id/derita-rakyat-kecil-dan-absennya-partai-kiri/): Masyarakat adat Maba Sangaji di Halmahera Timur, Maluku Utara, merasakan pahitnya sistem hukum negeri ini. Mereka bak musafir yang harus merangkak mencari mata air keadilan di tengah gurun sistem hukum yang kering-kerontang dengan rasa keadilan. Sejak Mei lalu, nasib tragis menimpa 11 warga Maba Sangaji. Mereka ditangkap karena memprotes keras aktivitas pertambangan yang merusak hutan dan sungai, yang selama ini menjadi tempat menggantungkan hidup secara turun-temurun. Puncaknya, pada16 Oktober lalu, mereka dijatuhi vonis penjara selama lima bulan delapan hari. Kisah getir masyarakat Maba Sangaji hanya satu keping cerita dari ratusan kasus serupa yang terjadi di hampir setiap pojok negeri. Berdasarkan… ## Pages - [Donasi](https://merdika.id/donasi/): Di tengah gempuran informasi yang bias, Merdika.id berdiri tegak—bebas, kritis, dan setia pada kepentingan publik. Kami bukan corong pemodal, bukan alat kekuasaan. Kami suara rakyat, berani mengungkap fakta tanpa takut dibungkam. Tapi kebebasan ini butuh dukungan. Bantu kami terus menyuarakan kebenaran dengan donasi. Sekecil apa pun kontribusimu, itu nyawa bagi jurnalisme independen. Klik, donasi, dan jadi bagian dari gerakan media merdeka! - [Penulis Merdika](https://merdika.id/tim-penulis-merdika/): Para penulis yang memperkaya gagasan merdika - [Dukung Kami](https://merdika.id/dukung-kami/): Yuk, dukung Merdika.Id untuk terus menghadirkan berita dan analisis yang memotivasi kamu untuk berpikir kritis dan bergerak! Kami percaya bahwa informasi yang tajam dan sudut pandang yang berani akan pelan-pelan mendorong dunia yang lebih baik. Namun, agar terus memberikan konten yang keren dan berdampak, kami butuh bantuan dari kamu. Dengan dukungan kamu, kita bisa bareng-bareng mengubah cara orang melihat dunia dan mendorong perubahan positif! Gak cuma itu, kalau kamu pengen banget terlibat lebih dalam, kita juga buka kesempatan buat kerjasama! Baik itu sponsor, kolaborasi konten, atau ide-ide kreatif lainnya, kita siap banget ngobrol. Bareng Merdika.Id, mari kita bikin gebrakan dan… - [Pedoman Media Siber](https://merdika.id/pedoman-media-siber/): Kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Keberadaan media siber di Indonesia juga merupakan bagian dari kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers. Media siber memiliki karakter khusus sehingga memerlukan pedoman agar pengelolaannya dapat dilaksanakan secara profesional, memenuhi fungsi, hak, dan kewajibannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Untuk itu Dewan Pers bersama organisasi pers, pengelola media siber, dan masyarakat menyusun Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai berikut: 1. Ruang Lingkup a. Media Siber adalah segala bentuk media… - [Rubrik](https://merdika.id/menu/): Kami menyajikan rubrik yang beragama dan menarik, dari internasional, politik, situasi nasional, sejarah, sosial-budaya, anak muda, olahraga, ekologi, dan perempuan - [Redaksi](https://merdika.id/redaksi/): Pemimpin Umum Kelik Ismunanto Pemimpin Redaksi Rudi Hartono Rudi Hartono, Winuranto Adhi, Kelik Ismunanto Frieska Ayu Maharani, Ira Kusumah, Lintang Fajar Wibawa, Mahesa Danu, Rini Mardika, Raymond Samuel, Risal Kurnia Erik Pratama Fani Elfira Lukman Hakim Redaksi: redaksi@merdika.idKerjasama: kerjasama@merdika.idWhatsapp: 0812-1000-6735 (Redaksi) Alamat: Belleza BSA, 1st Floor Unit 106, Jalan Letjen Soepeno, Permata HijauRT 004/RW 002, Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12210 - [Coming Soon](https://merdika.id/coming-soon/): I’m working on something amazing!But don’t worry, I’ll back soon. - [Privacy Policy](https://merdika.id/privacy-policy/): Kami adalah Kami adalah Kunjungi website kami://merdika.id. Comments Suggested text: When visitors leave comments on the site we collect the data shown in the comments form, and also the visitor’s IP address and browser user agent string to help spam detection. An anonymized string created from your email address (also called a hash) may be provided to the Gravatar service to see if you are using it. The Gravatar service privacy policy is available here: https://automattic.com/privacy/. After approval of your comment, your profile picture is visible to the public in the context of your comment. Media Suggested text: If you… - [Homepage](https://merdika.id/homepage-2/) - [Beranda](https://merdika.id/) - [Promo Blocks](https://merdika.id/promo-blocks/) - [Category Blocks](https://merdika.id/category-blocks/) - [Twitter Feed](https://merdika.id/twitter-feed/): Simple With Additional Info Slider - [Tabs & Pills](https://merdika.id/tabs-pills/): Tabs Horizontal Vertical Pills Horizontal Vertical - [Subscription Forms](https://merdika.id/subscription-forms/): Simple With First Name Get notified of the best deals on our WordPress themes. With Background Image - [Styled Lists](https://merdika.id/styled-lists/): Quam maecenas vitae laoreet eget donec etiam ullamcorper varius a. Ultricies eu eros leo sem ut aenean. Maecenas montes donec vel. Nec sit augue cras a id rhoncus lorem nunc. Vici ante enim rhoncus eget aenean tincidunt vitae eleifend. Et veni quis tellus felis vulputate. Simple Lists Quis arcu enim pulvinar vitae. Porttitor faucibus felis vivamus enim venenatis. Phasellus enim metus amet quis curabitur elementum tellus eget pede nec a nam ipsum. Sed ante quis aenean eu justo pede tincidunt amet ligula rhoncus libero. Mollis pretium faucibus ante libero vitae lorem consectetuer. Quam eu dolor lorem magnis eleifend augue penatibus… - [Styled Blocks](https://merdika.id/styled-blocks/): Bordered Blocks Integer nullam rhoncus metus a consequat ante donec magnis massa consectetuer ridiculus dis. Dolor porttitor eu. Single Border Sit arcu quis sem cum aliquam. Donec libero nam eget leo. Fringilla ante mollis. Nec ligula aenean vitae integer massa tincidunt nulla donec vel quis porttitor. Duis pretium rhoncus euismod. Donec ante risus, feugiat sit amet metus quis, congue imperdiet lectus. Etiam vel pharetra orci. Mauris blandit. Four-Side Borders Nascetur eget aliquam sociis nullam libero penatibus dolor. Orci phasellus quis pede nullam felis adipiscing nascetur sit justo. Sit ullamcorper vitae. Center-Aligned Tincidunt vulputate eu. Ligula lorem neque nec quis aenean… - [Social Links](https://merdika.id/social-links/): Inline Vertical List 2 columns 3 columns 4 columns 6 columns All Supported Social Links - [Share Buttons](https://merdika.id/share-buttons/): Simple Bold Simple & Light Background First Two Large Buttons Equal Width Buttons Simple Buttons Simple & Dark Background First Two Large Buttons Equal Width Buttons Simple Buttons Simple & Bold Background First Two Large Buttons Equal Width Buttons Simple Buttons Bold & Light Background First Two Large Buttons Equal Width Buttons Simple Buttons All Supported Share Buttons - [Separators](https://merdika.id/separators/): Solid Amet imperdiet vulputate. Sociis dolor nisi tellus justo fringilla libero orci ligula vel phasellus odio eleifend. Ante quam quis varius. Donec aenean sed quisque varius rutrum quam tellus. Massa quis justo et leo ipsum aliquet ullamcorper curabitur eu ut sem. Veni maecenas et rhoncus vivamus metus consectetuer nisi ante etiam. Dui ullamcorper libero ut eleifend ridiculus consequat. Enim augue ante. Justo imperdiet sapien. Imperdiet ligula dictum amet nec tellus id quis libero. Venenatis aenean blandit justo semper curabitur ipsum quis quam donec aliquet. Varius dapibus aenean massa. Double Ullamcorper aenean enim sociis porttitor et quis vitae. Nec tincidunt quam… - [Progress Bars](https://merdika.id/progress-bars/) - [Pinterest Board](https://merdika.id/pinterest-board/) - [Numbered Headings](https://merdika.id/numbered-headings/): Eu nascetur tempus quam eget veni lorem felis maecenas. Sem vivamus metus rhoncus. Magnis tempus sed blandit maecenas venenatis eros libero ut quis amet varius. Id imperdiet neque ut donec a nisi eget condimentum felis tellus luctus libero. Sed nisi ante maecenas nec etiam eget feugiat nunc donec metus. Mollis dolor donec leo etiam pellentesque nulla natoque ultricies et. Metus adipiscing aenean massa Nec veni odio mus fringilla vici ligula orci aliquet eleifend rhoncus neque. Imperdiet hendrerit eget aenean integer nec justo fringilla condimentum ipsum etiam curabitur. Vitae eu sem. Vici vidi luctus. Quisque ante nec maecenas consequat sem neque… - [Instagram Feed](https://merdika.id/instagram-feed/): 5 Columns Featured Style - [Facebook Fanpage](https://merdika.id/facebook-fanpage/): With Posts Without Posts Simple - [Drop Caps](https://merdika.id/drop-caps/): Simple Aenean eget mus orci aliquet phasellus enim. Nullam felis dis viverra ridiculus blandit consectetuer. Nisi lorem enim amet ut viverra nascetur blandit justo tincidunt ante commodo vitae. Vitae ipsum leo justo libero mus aenean venenatis ut ante penatibus nisi vulputate tempus. Natoque quam dapibus sit ante. Lorem elit libero et integer vel nisi aenean eu sed id ut eget. Cras curabitur nisi ligula amet et condimentum sapien quis etiam aenean. Quam quis consectetuer feugiat enim felis pellentesque vel amet a mollis libero condimentum nascetur. Tellus adipiscing dapibus amet sit pede ultricies ligula. Massa parturient faucibus vidi. Imperdiet feugiat eget… - [Badges](https://merdika.id/badges/): Variations PRIMARY SECONDARY SUCCESS DANGER WARNING INFO DARK LIGHT Buttons Headings Nec nascetur mus vici. Dolor rhoncus augue quisque parturient etiam imperdiet sit nisi tellus veni faucibus orci. Imperdiet venenatis nec odio ac nullam rhoncus curabitur montes dapibus sem eu ante. Example heading NEW Example heading NEW Example heading NEW Example heading NEW Example heading NEW Example heading NEW Sit nisi ridiculus elit a eget. Ipsum id eu faucibus. Pede condimentum etiam et cras lorem eget. Ligula ultricies quis. Varius nunc pulvinar vitae nam tellus. Ultricies penatibus eu vitae aenean parturient etiam massa vel tellus vivamus. Aenean id ut. Ac condimentum tempus tellus blandit felis libero etiam vel maecenas feugiat quam eget pede.… - [](https://merdika.id/author/): Penulis - [Alerts](https://merdika.id/alerts/): Dismissible Alerts Multi-Line Alerts Here’re some examples of multi-line alerts with headings and paragraphs. - [Accordions](https://merdika.id/accordions/): Multiple Accordion Tabs Single Spoiler - [Multi-Page Post](https://merdika.id/multi-page-post/): You may add pagination to any post or page by simply adding <!--nextpage--> in the WordPres editor, where you would like it to appear ?. Tempus ante condimentum sem hendrerit eu phasellus vidi et quis orci arcu quam augue. Hendrerit amet id a condimentum semper felis. Donec sed lorem feugiat aenean ante cras elementum pede. Quis eget blandit felis et. Vici ac felis tellus in pretium Etiam dui pretium eget vel laoreet cras rhoncus aenean imperdiet. Vitae integer tempus eget sem aenean amet leo pretium nam enim dui nulla sed. Rutrum dolor sapien aenean consequat mollis ut justo arcu pellentesque quisque… - [Inline Posts](https://merdika.id/inline-posts/): Tempus ante condimentum sem hendrerit eu phasellus vidi et quis orci arcu quam augue. Hendrerit amet id a condimentum semper felis. Donec sed lorem feugiat aenean ante cras elementum pede. Quis eget blandit felis et. List Vici ac felis tellus in pretium. Etiam dui pretium eget vel laoreet cras rhoncus aenean imperdiet. Vitae integer tempus eget sem aenean amet leo pretium nam enim dui nulla sed. Rutrum dolor sapien aenean consequat mollis ut justo arcu pellentesque quisque dis natoque nec. Pretium vitae blandit vel elit faucibus vici amet ridiculus. Aenean natoque ipsum eget. Sem varius justo pede veni feugiat. Maecenas… - [Galleries](https://merdika.id/galleries/): Quis tellus felis neque nulla tincidunt donec. Eleifend ut elit hendrerit vel imperdiet curabitur et eget. Semper lorem aliquam tellus imperdiet etiam sociis nec donec. Imperdiet rhoncus a etiam feugiat tincidunt luctus augue arcu commodo ultricies. Pretium venenatis nec tellus natoque adipiscing vivamus pulvinar imperdiet ultricies viverra lorem semper mollis. Vulputate et nam eget justo. Slider Ipsum orci nisi pellentesque natoque libero aenean sapien fringilla mollis varius nec feugiat laoreet. Quis vitae dolor lorem imperdiet ante sit. Dolor id penatibus fringilla enim ut eget pede quis phasellus libero tempus ultricies nunc. Eu ligula vel dapibus eget. Nunc eget sit elit… - [Contact Form](https://merdika.id/contact-form/) - [Tentang Kami](https://merdika.id/tentang-kami/): Di tengah riuh rendah informasi dan kebisingan digital, Merdika.id hadir sebagai oase. Kami bukan sekadar penyaji berita. Kami adalah panggung bagi analisis tajam, laporan mendalam, dan refleksi historis atas isu-isu terkini yang membentuk dunia kita, baik di dalam negeri maupun dunia. Misi kami satu: ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menyajikan konten yang renyah, mendalam, dan senantiasa kritis. Kami bukan sekadar ruang redaksi; kami adalah dapur gagasan. Di sini, ide-ide segar adalah bahan baku utama. Kami tidak hanya menyajikan apa yang terjadi, tetapi menggali ‘mengapa’ di baliknya dan ‘bagaimana’ untuk melangkah ke depan. Kami meracik data, menguji perspektif, dan menyajikan… [comment]: # (Generated by Hostinger Tools Plugin)